Dedikasi Seorang Remaja: Mengorbankan Diri Demi Nenek Tercinta

Dedikasi Seorang Remaja: Mengorbankan Diri Demi Nenek Tercinta

Wan En, remaja 15 tahun asal Malaysia, telah menghadapi cobaan hidup yang berat sejak ditinggal kedua orang tuanya. Ayahnya meninggal dunia awal tahun ini akibat serangan jantung, menambah duka mendalam setelah ibunya meninggal dunia saat Wan En masih berusia 9 tahun. Kehilangan orang tua di usia muda memaksa Wan En untuk menjadi tulang punggung bagi neneknya yang berusia 83 tahun dan membutuhkan perawatan intensif. Keterbatasan fisik neneknya yang kesulitan berjalan dan memasak membuat Wan En harus memikul tanggung jawab lebih besar.

Kehidupan sehari-hari mereka sangat sederhana. Nenek Wan En hanya mengandalkan uang pensiun yang jumlahnya terbatas. Uang jajan sekolah yang diberikan neneknya sebesar RM 5 (sekitar Rp 18.500) sehari, hanya separuhnya yang digunakan Wan En untuk dirinya sendiri. Sisanya, ia gunakan untuk membeli makanan tambahan bagi neneknya. Kepekaan dan pengorbanan Wan En tidak berhenti sampai di situ. Ia juga bekerja paruh waktu di sebuah kedai kwetiau, mendapatkan penghasilan sekitar RM 20 (sekitar Rp 74.000) per hari. Seluruh penghasilannya diberikan kepada neneknya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Kondisi ekonomi mereka yang memprihatinkan membuat mereka sering mengkonsumsi mie instan sebagai makanan pokok. Kisah pilu Wan En dan neneknya ini terungkap setelah dikunjungi oleh Steven Sim Chee Keong, Menteri Sumber Daya Manusia Malaysia. Kunjungan tersebut dibagikan melalui unggahan Facebook pada 9 Maret 2025, dan sontak menyentuh hati banyak orang. Kesedihan Wan En yang terungkap melalui air matanya setiap malam menyadarkan banyak pihak akan kesulitan yang dihadapi keluarga ini.

Melihat kondisi tersebut, Menteri Sim memberikan bantuan sejumlah RM 10.000 (sekitar Rp 37 juta) kepada nenek Wan En dan berjanji akan memberikan dukungan berkelanjutan. Ia memastikan tersedianya makanan untuk nenek dan cucunya, serta memberikan uang saku bulanan kepada Wan En agar ia dapat fokus pada pendidikannya. Tindakan Menteri Sim ini diilhami oleh rasa kepedulian dan komitmennya dalam melayani seluruh warga Malaysia tanpa memandang latar belakang mereka. Kisah Wan En menjadi pengingat penting akan nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial dalam masyarakat. Ini juga menjadi bukti bahwa di tengah kesulitan, masih ada harapan dan bantuan yang datang dari berbagai pihak.

Selain kisah Wan En, kasus serupa juga ditemukan di India, di mana seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun, Jaspreet, harus berjualan kebab untuk menghidupi dirinya dan kakaknya setelah ditinggal orang tuanya. Kisah-kisah ini menjadi sorotan akan pentingnya perlindungan anak dan dukungan pemerintah serta masyarakat untuk anak-anak yang kurang beruntung.

Sumber: Mothership SG (10/3/2025), Instagram @mrsingfoodhunter