Implementasi Program Makan Bergizi Gratis Harus Penuhi Standar Gizi dan Keanekaragaman Pangan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah, menurut pakar gizi, wajib mengedepankan prinsip keanekaragaman pangan dan penyesuaian dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan individu.

Pakar Gizi Badan Gizi Nasional (BGN), Ikeu Tanziha, menyampaikan bahwa pemenuhan gizi seimbang adalah fondasi utama dalam keberhasilan implementasi program MBG. Gizi seimbang bukan hanya tentang kuantitas, tetapi juga kualitas dan variasi makanan yang dikonsumsi.

"Kita kembali ke gizi seimbang, jadi komponennya keanekaragaman pangan. Untuk anak-anak, kalsium lebih banyak dibutuhkan karena untuk pertumbuhan, sedangkan ibu hamil membutuhkan asam folat agar janinnya tumbuh sempurna dan optimal," jelas Ikeu.

Setiap hidangan MBG harus mengandung komposisi gizi yang lengkap dan seimbang, mencakup karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral. Komposisi ini harus disesuaikan dengan kelompok usia penerima manfaat. Misalnya, lansia membutuhkan lebih sedikit karbohidrat dan lebih banyak serat dibandingkan anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Standar AKG yang berbeda untuk setiap kelompok usia sudah diatur.

BGN selama ini mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) dalam menetapkan standar gizi untuk anak-anak sekolah. Kebutuhan gizi harian anak dibagi berdasarkan jenjang pendidikan. Untuk anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD) kelas 1-3, porsi gizi yang dipenuhi melalui program MBG setara dengan 20-25 persen AKG harian, dan disajikan sebagai sarapan. Sementara itu, siswa kelas 4 hingga SMA mendapatkan makan siang yang memenuhi 30-35 persen AKG.

Ikeu juga menyoroti pentingnya variasi menu dalam program MBG. Meskipun standar gizi telah ditetapkan dalam Permenkes, implementasi di lapangan, khususnya variasi menu, sangat bergantung pada kebijakan tenaga gizi di masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah. Tujuannya adalah agar menu yang disajikan tetap relevan dengan pangan lokal setempat dan tidak membosankan.

AKG telah diatur dalam Permenkes yang mencakup kebutuhan energi, karbohidrat, protein, dan mineral. Standar ini menjadi acuan dalam penyusunan menu MBG. Namun, variasi menu tetap diperlukan agar program ini menarik dan berkelanjutan.

Prinsip gizi seimbang juga mencakup faktor-faktor lain seperti usia, tingkat aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta upaya pengendalian berat badan ideal. Semua faktor ini harus dipertimbangkan dalam penyusunan menu MBG agar program ini memberikan manfaat optimal bagi penerima manfaat.