Polemik Pernyataan Wali Kota Jayapura Picu Reaksi Keras Wakil Gubernur Papua Pegunungan
Pernyataan Kontroversial Wali Kota Jayapura Memicu Gelombang Kritik
Pernyataan Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, yang menyebutkan bahwa aksi demonstrasi dan pemalangan di wilayahnya didalangi oleh warga pegunungan, menuai kecaman luas. Pernyataan ini, yang terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial, memicu reaksi keras dari berbagai pihak, terutama dari kalangan pemimpin daerah dan tokoh masyarakat Papua.
Dalam video tersebut, Abisai Rollo dengan tegas menyatakan bahwa gangguan ketertiban di Kota Jayapura bukan berasal dari warga asli Port Numbay atau masyarakat pesisir, melainkan dari kelompok masyarakat yang berasal dari wilayah pegunungan. Pernyataan ini disampaikan dalam acara expose 100 hari kerja Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jayapura yang digelar di Aula Sian Sor.
"Tidak ada demo, tidak ada palang kota ini, karena yang biasa palang dan demo saya pikir bukan orang Port Numbay, bukan orang Pantai, ini orang-orang gunung," ujarnya dalam video tersebut. Ia menambahkan bahwa penting bagi masyarakat untuk mengetahui bahwa permasalahan yang terjadi di kota tersebut bukan disebabkan oleh warga asli Jayapura.
Pernyataan ini kemudian menuai kritik tajam dari berbagai kalangan, yang menilai bahwa pernyataan tersebut berpotensi memecah belah persatuan masyarakat Papua yang multikultur.
Wakil Gubernur Papua Pegunungan Angkat Bicara
Menanggapi pernyataan kontroversial tersebut, Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, menyampaikan keprihatinannya. Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat asli Papua di tengah dinamika perubahan administrasi wilayah. Ones Pahabol menyayangkan pernyataan Abisai Rollo yang dianggapnya tidak bijak dan berpotensi menyakiti hati masyarakat Papua.
"Saya bicara dari kesatuan tubuh orang Papua. Papua boleh pecah menjadi enam provinsi, tetapi orang Papua jangan sampai terpecah. Kita satu budaya, satu DNA, satu rumah," tegas Ones Pahabol dalam keterangan persnya.
Ones Pahabol, yang sebelumnya menjabat sebagai Bupati Yahukimo, menilai bahwa pernyataan Wali Kota Jayapura tersebut mencerminkan kurangnya narasi kepemimpinan yang bijaksana. Ia menekankan bahwa seorang pemimpin seharusnya mampu menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat, bukan malah menciptakan narasi yang memecah belah.
"Seorang pemimpin harus bijak dan berhikmat. Tidak boleh membangun narasi yang menyakiti dan memecah belah orang Papua yang satu kultur (budaya). Ini pernyataan yang tidak layak keluar dari seorang kepala daerah, apalagi tokoh adat," tegasnya.
Ones Pahabol juga mengingatkan bahwa setiap pemimpin di Papua harus berpegang pada dua fondasi utama, yakni budaya dan spiritualitas. Ia menegaskan bahwa orang Papua adalah satu kesatuan Melanesia yang terbentang dari Sorong hingga Papua Nugini dan Kepulauan Solomon.
"Kami manusia Papua satu ras Melanesia. Dari Sorong sampai Merauke, dari gunung hingga pantai, kita adalah satu," ujarnya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat dan para pemimpin untuk memandang Jayapura sebagai rumah bersama bagi seluruh masyarakat Papua. Ia juga menekankan bahwa persatuan dan kesatuan adalah kunci untuk membangun tanah Papua yang lebih baik.
"Papua boleh terbagi, tapi orang Papua jangan sampai pecah. Kalau kita utuh, kita kuat untuk membangun tanah Papua. Jangan rusak dengan narasi sempit dan sektarian," pungkasnya.
Berikut adalah beberapa poin penting yang disampaikan oleh Wakil Gubernur Papua Pegunungan:
- Pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat asli Papua.
- Pernyataan Wali Kota Jayapura dianggap tidak bijaksana dan berpotensi memecah belah.
- Setiap pemimpin di Papua harus berpegang pada budaya dan spiritualitas.
- Jayapura harus dipandang sebagai rumah bersama bagi seluruh masyarakat Papua.
- Persatuan dan kesatuan adalah kunci untuk membangun tanah Papua yang lebih baik.