Kakatua Jambul Kuning di Pulau Moyo Terancam: Populasi Kritis di Bawah 60 Ekor
Populasi Kritis Kakatua Jambul Kuning di Pulau Moyo Memicu Kekhawatiran
Kondisi memprihatinkan dialami populasi burung kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea occidentalis) di Pulau Moyo, Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB pada tahun 2024, hanya tersisa 51 ekor burung ikonik ini di habitat aslinya.
Angka ini memicu kekhawatiran mendalam akan keberlangsungan spesies endemik tersebut. Menyadari urgensi situasi ini, BKSDA NTB telah menyusun peta jalan konservasi yang komprehensif. Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan arahan yang jelas, efektif, efisien, dan akuntabel dalam upaya pelestarian kakatua kecil jambul kuning.
"Kami sangat berharap rencana dan dokumen peta jalan konservasi kakatua kecil jambul kuning yang telah dirumuskan dapat segera diimplementasikan," ujar Joni Sari Wijoyo, Ketua Komunitas Sumbawa Biodiversity, sebuah organisasi yang telah aktif memantau, meneliti, dan melakukan upaya konservasi kakatua jambul kuning di Pulau Moyo sejak tahun 2017. Joni juga turut berpartisipasi dalam lokakarya yang diselenggarakan oleh BKSDA.
Habitat dan Ancaman
Berdasarkan pemetaan sebaran, 51 ekor kakatua jambul kuning tersebut mendiami 18 sarang yang tersebar di pohon randu atau kapuk di kawasan hutan lindung Pulau Moyo. Komunitas Sumbawa Biodiversity telah berinisiatif memasang lubang sarang buatan sejak tahun 2022, sebagai upaya membantu perkembangbiakan burung-burung tersebut. Selain itu, identifikasi jenis pohon yang menjadi preferensi kakatua dalam bersarang juga telah dilakukan.
Teridentifikasi tiga jenis pohon utama yang kerap dijadikan sarang oleh kakatua, yaitu:
- Pohon tatah (Homalium bhamoense)
- Binong (Tetrameles nudiflora)
- Jabong (Antrocephalus)
Pulau Moyo, dengan luas wilayah mencapai 31.200 hektar, merupakan rumah bagi beragam spesies selain kakatua jambul kuning. Tercatat 10 jenis spesies lainnya, termasuk 52 jenis burung, 16 jenis reptil, 233 jenis flora, 230 jenis ikan, dan 45 jenis terumbu karang.
Kepala BKSDA NTB, Budhy Kurniawan, menyoroti ancaman utama yang dihadapi kakatua jambul kuning saat ini, yaitu perluasan lahan untuk perkebunan jambu mete. Situasi ini memerlukan tindakan perlindungan dan pengamanan yang komprehensif, tidak hanya untuk spesies kakatua itu sendiri, tetapi juga untuk habitatnya.
Upaya Konservasi Terpadu
BKSDA NTB tengah berupaya membentuk kelembagaan Balai Taman Nasional Moyo-Satonda (TNMS), yang akan mengintegrasikan pengelolaan Pulau Moyo di Kabupaten Sumbawa dan Pulau Satonda di Kabupaten Dompu. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas upaya konservasi secara keseluruhan.
Fokus utama dalam upaya konservasi kakatua jambul kuning adalah pengembangan spesies dan habitatnya, dengan tujuan meningkatkan populasi burung langka tersebut. Selain menjaga keberadaan spesies, peningkatan populasi menjadi prioritas utama.
Salah satu strategi yang diterapkan adalah mendorong masyarakat untuk beralih ke pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) sebagai alternatif mata pencaharian. Selain itu, ancaman serius lainnya yang perlu diatasi adalah perburuan ilegal dan perluasan lahan pertanian.
Perubahan Iklim sebagai Ancaman Serius
Ahli ekologi hewan dari Universitas Mataram, I Wayan Suana, menekankan bahwa perubahan iklim menjadi ancaman signifikan bagi populasi kakatua kecil jambul kuning yang tersisa. Populasi yang hanya berjumlah 51 ekor sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim global, yang dapat memicu kepunahan.
Perubahan iklim dapat mempengaruhi suhu dan lingkungan, sehingga memperkecil peluang telur menetas dan menghasilkan anakan kakatua kecil jambul kuning. Pulau Moyo merupakan habitat penting bagi burung ini, yang membangun sarang dengan cara melubangi pohon.
Wayan juga menyoroti bahwa kakatua kecil jambul kuning tidak hanya bersarang di area taman nasional, tetapi juga di pohon-pohon yang berada di lahan milik masyarakat. Kakatua kecil jambul kuning memiliki ciri fisik yang khas, yaitu tubuh kecil dengan panjang sekitar 33 hingga 35 sentimeter, bulu didominasi warna putih, jambul berwarna kuning, dan paruh berwarna hitam yang melengkung tajam dan kuat.