Pertemuan Prabowo-Putin Hasilkan Komitmen Percepatan Perjanjian Dagang RI-Eurasia

markdown Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat untuk mempercepat penyelesaian perjanjian dagang antara Indonesia dan Eurasian Economic Union Free Trade Area (I-EAEU FTA). Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan resmi kedua pemimpin di Istana Konstantinovsky, St. Petersburg, Rusia, Kamis lalu.

Perjanjian I-EAEU FTA diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk Indonesia ke negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU), yang meliputi Rusia, Armenia, Belarus, Kazakhstan, dan Kirgizstan. Prabowo menyampaikan kegembiraannya atas kesepakatan ini dan menekankan pentingnya peran Indonesia dan Rusia dalam kawasan Eurasia.

Putin juga menyoroti potensi peluang ekonomi baru yang akan tercipta bagi kedua negara setelah penandatanganan perjanjian FTA. Ia berharap perjanjian tersebut dapat segera diwujudkan. Putin menambahkan bahwa Indonesia merupakan salah satu mitra dagang utama Rusia di Asia Tenggara. Volume perdagangan antara kedua negara mencapai US$ 4,3 miliar pada tahun lalu, dan mengalami peningkatan sebesar 40% dalam empat bulan pertama tahun ini.

Kementerian Perdagangan Indonesia (Kemendag) menyatakan bahwa perjanjian dagang dengan EAEU akan membuka akses pasar bagi produk-produk unggulan Indonesia ke wilayah dengan populasi sekitar 183 juta jiwa. Jika digabungkan dengan perjanjian dagang Indonesia-Uni Eropa CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement), potensi pasar yang terbuka bagi produk Indonesia akan mencapai 600 juta jiwa.

Perjanjian I-EAEU FTA akan difokuskan pada produk-produk manufaktur padat karya, pertanian, dan perikanan. Selain itu, perjanjian ini bertujuan untuk mengurangi hambatan tarif dan non-tarif bagi sejumlah produk ekspor Indonesia, termasuk kelapa sawit, hasil pertanian, tekstil, dan elektronik, sehingga meningkatkan daya saing produk-produk tersebut di pasar EAEU.

Data Kemendag menunjukkan bahwa total perdagangan Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia pada tahun 2024 mencapai US$ 4,1 miliar. Ekspor Indonesia ke EAEU tercatat sebesar US$ 1,5 miliar, meningkat 36% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, impor Indonesia dari EAEU mencapai US$ 2,4 miliar, menurun 4% dibandingkan tahun sebelumnya. Neraca perdagangan Indonesia dengan EAEU menunjukkan defisit sebesar US$ 1,1 miliar.

Berikut adalah poin-poin penting terkait potensi manfaat dari perjanjian dagang I-EAEU FTA:

  • Akses Pasar yang Lebih Luas: Membuka peluang ekspor produk Indonesia ke pasar dengan populasi 183 juta jiwa.
  • Peningkatan Daya Saing: Mengurangi hambatan tarif dan non-tarif untuk produk ekspor Indonesia.
  • Fokus pada Produk Unggulan: Memprioritaskan sektor manufaktur padat karya, pertanian, dan perikanan.
  • Potensi Pertumbuhan Ekonomi: Mendorong peningkatan volume perdagangan dan investasi antara Indonesia dan negara-negara EAEU.

Implementasi perjanjian I-EAEU FTA diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dan mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Rusia serta negara-negara anggota EAEU lainnya. Perjanjian ini juga menjadi bukti komitmen kedua negara untuk terus meningkatkan kerja sama di berbagai bidang, termasuk perdagangan dan investasi.