Inovasi Pembayaran Digital: Tukang Becak Solo Adaptasi QRIS dengan Dukungan Bank Indonesia
Kota Solo terus berbenah menyambut era digital, kali ini dengan mengimplementasikan sistem pembayaran non-tunai berbasis QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) bagi para tukang becak. Inisiatif ini digagas oleh Bank Indonesia (BI) sebagai bagian dari upaya memperluas adopsi transaksi digital di seluruh lapisan masyarakat.
Tahap pertama program ini telah bergulir dan melibatkan sekitar seratus tukang becak dari berbagai paguyuban di Kota Solo. Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Perwakilan BI Solo, Aries Purnomohadi, sebagian besar dari tukang becak tersebut telah berhasil difasilitasi pembukaan rekening bank.
"Dari seratus becak yang menjadi target awal, sekitar delapan puluh di antaranya sudah berhasil kita bantu membuka rekening, berkat kerjasama dengan berbagai perbankan," ujar Aries.
Namun demikian, proses implementasi tidak selalu berjalan mulus. Sejumlah tukang becak terkendala masalah administratif terkait dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) mereka. Permasalahan meliputi data yang tidak sesuai atau KTP yang belum diperbarui.
"Saat membuka rekening, data KTP harus valid dan terhubung dengan sistem. Beberapa di antara mereka ternyata memiliki kendala terkait hal ini, bisa jadi karena KTP-nya sudah lama tidak diperbarui atau masalah teknis lainnya," jelas Aries.
Menanggapi kendala tersebut, BI berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Solo untuk memberikan pendampingan dan membantu proses pencetakan ulang KTP bagi para tukang becak yang membutuhkan.
Bagi tukang becak yang telah berhasil membuka rekening dan memenuhi persyaratan, BI memasang stiker QRIS langsung di becak mereka. Tujuannya adalah untuk memberikan kemudahan bagi para penumpang yang ingin melakukan pembayaran secara non-tunai.
"Kami mendapat informasi bahwa sudah ada beberapa transaksi pembayaran yang menggunakan QRIS ini," kata Aries.
Melihat respon positif dari para tukang becak dan masyarakat, program ini akan dilanjutkan ke tahap kedua dengan target menjangkau 250 tukang becak lainnya. Langkah ini juga merupakan persiapan menyambut event besar yang akan diselenggarakan di Solo pada Juli 2025, yang diperkirakan akan menarik banyak wisatawan.
"Setelah berkoordinasi dengan ketua paguyuban, kami mencatat ada sekitar 550 tukang becak di Solo. Pada tahap kedua ini, kami berencana untuk mengakomodasi 250 becak," terang Aries.
Inisiatif penerapan QRIS bagi tukang becak ini diharapkan dapat memberikan kemudahan, keamanan, dan efisiensi dalam bertransaksi, sekaligus mendukung program pemerintah dalam mendorong inklusi keuangan dan digitalisasi ekonomi di daerah.