Pulau Masalembu Dilanda Krisis Energi, Warga Bertahan dengan Sumber Penerangan Alternatif

Kondisi memprihatinkan dialami warga Kecamatan Pulau Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang hingga kini masih berjuang mengatasi krisis listrik yang sudah berlangsung lama. Akses terhadap sumber energi yang stabil dan berkelanjutan menjadi tantangan besar bagi masyarakat setempat.

Mayoritas penduduk, terutama di Desa Masalima dan Desa Sukajeruk, masih belum merasakan manfaat listrik secara penuh. Ketergantungan pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) swasta menjadi solusi sementara, namun tidak ideal. Masyarakat secara mandiri membangun jaringan listrik dari rumah ke rumah, tanpa adanya infrastruktur resmi dari pemerintah. Pasokan listrik pun tidak berlangsung selama 24 jam penuh, hanya tersedia pada sore hingga malam hari.

Biaya yang harus dikeluarkan warga untuk menikmati listrik dari PLTD swasta juga tidak sedikit. Beberapa warga harus membayar hingga Rp 300.000 per bulan. Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, hal ini menjadi beban berat. Mereka terpaksa mengandalkan aki sebagai sumber energi alternatif, dengan mengisi daya di rumah tetangga. Ironisnya, di beberapa wilayah terpencil, warga masih menggunakan obor tradisional yang disebut "damar conglet" sebagai satu-satunya penerangan di malam hari.

Kondisi krisis listrik ini tidak hanya berdampak pada penerangan rumah tangga, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi masyarakat. Pelaku usaha kecil, seperti pengrajin dan pedagang makanan, kesulitan mengoptimalkan penggunaan peralatan listrik. Kulkas untuk menyimpan bahan makanan, misalnya, hanya dapat digunakan saat listrik menyala dalam waktu terbatas. Hal ini tentu saja menghambat potensi perkembangan ekonomi lokal.

Warga berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk mewujudkan pemerataan dan keberlanjutan pasokan listrik di Pulau Masalembu. Ketua Komisi I DPRD Sumenep, Darul Hasyim Fath, telah menyampaikan permasalahan ini kepada PT PLN Unit Induk Distribusi Jawa Timur. Ia menekankan pentingnya kehadiran PLN di Pulau Masalembu sebagai bukti kehadiran negara dan memberikan penerangan yang memadai bagi masyarakat.

Darul mengakui bahwa membangun infrastruktur listrik di Pulau Masalembu bukanlah tugas yang mudah bagi PLN. Tantangan geografis, akses transportasi yang terbatas, serta kendala teknis seperti penyediaan lahan, menjadi faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan secara matang. Meski demikian, ia berharap PLN dapat segera merealisasikan pembangunan listrik di Pulau Masalembu, dan pemerintah daerah siap memberikan dukungan penuh.

Masalah ini menjadi perhatian serius, dan diharapkan solusi permanen dapat segera ditemukan agar masyarakat Pulau Masalembu dapat menikmati akses listrik yang layak dan meningkatkan kualitas hidup mereka.