Pavel Durov, Pendiri Telegram, Berencana Wariskan Kekayaan kepada Ratusan Anak Hasil Donasi Sperma
Pavel Durov, tokoh di balik aplikasi pesan instan Telegram, mengumumkan rencana unik terkait warisan kekayaannya. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Durov menyatakan niatnya untuk mewariskan seluruh asetnya yang mencapai miliaran dolar kepada lebih dari seratus anak yang lahir dari hasil donasi spermanya.
Dalam perbincangannya, Durov mengungkapkan bahwa ia adalah "ayah biologis" dari enam anak dari tiga ibu yang berbeda. Namun, ia juga mengetahui dari klinik tempat ia menyumbangkan sperma sekitar 15 tahun lalu, bahwa donasinya telah menghasilkan lebih dari seratus anak di berbagai belahan dunia. Durov menegaskan bahwa semua anak tersebut akan memiliki hak yang sama atas warisannya.
Miliarder berusia 40 tahun itu menjelaskan bahwa akses terhadap warisan tersebut akan dibatasi hingga 30 tahun mendatang. Tujuannya adalah agar anak-anaknya dapat tumbuh mandiri, membangun karakter, dan tidak hanya bergantung pada kekayaan yang diwariskan. Durov, yang kini tinggal di Dubai, mengaku telah menyusun surat wasiat karena menyadari risiko yang melekat pada pekerjaannya. Ia meyakini bahwa membela kebebasan dapat menimbulkan banyak musuh, bahkan di negara-negara yang kuat.
Telegram, aplikasi pesan terenkripsi yang didirikan Durov, kini memiliki lebih dari satu miliar pengguna aktif bulanan di seluruh dunia. Meskipun dikenal karena perlindungan privasinya yang kuat, Telegram juga menghadapi kritik terkait moderasi konten yang dianggap kurang memadai. Aplikasi ini dituduh menjadi wadah bagi penyebaran konten ilegal, ekstrem, dan berbahaya.
Selain masalah warisan, Durov juga menanggapi tuduhan kriminal yang dihadapinya di Prancis. Ia sempat ditangkap di bandara atas tuduhan gagal mengendalikan konten bermasalah di Telegram, termasuk perdagangan narkoba dan eksploitasi seksual anak. Durov membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa ia telah bekerja sama dengan pihak berwajib. Ia menegaskan bahwa hanya karena penjahat menggunakan Telegram, bukan berarti pengelola aplikasi tersebut juga kriminal.
Durov sebelumnya mendirikan VKontakte, jejaring sosial terkemuka di Rusia, sebelum akhirnya meninggalkan perusahaan tersebut karena perbedaan pendapat dengan pemerintah terkait penyensoran konten. Meskipun menghadapi berbagai kontroversi, Telegram tetap menjadi platform populer di berbagai negara, meskipun juga menjadi perhatian karena potensi penyebaran konten ekstrem dan berbahaya.