AS Pertimbangkan Opsi Militer Terhadap Iran dalam Dua Pekan
Amerika Serikat Beri Sinyal Keputusan Krusial Soal Iran dalam Dua Minggu
Washington, D.C. – Gedung Putih memberikan indikasi kuat bahwa Amerika Serikat akan mengambil keputusan penting dalam dua minggu ke depan terkait potensi keterlibatan dalam konflik yang melibatkan Iran. Fokus utama adalah program nuklir Iran dan upaya untuk menghentikannya melalui jalur diplomatik. Namun, opsi militer, termasuk kemungkinan bergabung dengan Israel dalam serangan, tetap ada di atas meja.
Tekanan meningkat seiring dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut Iran memiliki "waktu maksimum" dua minggu untuk menunjukkan keseriusan dalam negosiasi. Trump mengisyaratkan kesiapannya untuk bertindak sebelum tenggat waktu tersebut jika tidak melihat adanya perubahan signifikan. Meskipun menegaskan kemungkinan tidak akan menghalangi Israel jika memilih untuk menyerang Iran, Trump juga menyebut adanya peluang negosiasi yang mungkin atau tidak terjadi dengan Iran dalam waktu dekat.
Pemerintahan Trump telah aktif menjajaki jalur diplomatik, meskipun di tengah ketegangan yang meningkat. Juru bicara Gedung Putih, Leavitt, menyatakan bahwa Washington dan Teheran telah melanjutkan "korespondensi" sejak serangan Israel terhadap Iran pekan lalu. Trump sendiri mengklaim bahwa Iran telah meminta untuk mengirim pejabat ke Gedung Putih untuk membahas kesepakatan baru mengenai program nuklirnya, meskipun klaim ini dibantah oleh pihak Iran.
Tenggat waktu dua minggu ini muncul setelah beberapa hari eskalasi, di mana Trump secara terbuka mempertimbangkan untuk bergabung dengan serangan Israel terhadap Iran. Ia bahkan menyebut pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagai "target yang mudah". Trump telah menghabiskan beberapa minggu terakhir untuk mencari kesepakatan baru yang akan menggantikan kesepakatan nuklir yang ditinggalkan AS pada tahun 2018. Namun, ia juga menunjukkan dukungan terhadap serangan Israel terhadap fasilitas nuklir dan petinggi militer Iran, sambil mempertimbangkan apakah akan ikut terlibat.
Amerika Serikat memiliki kemampuan militer yang signifikan di kawasan tersebut, termasuk bom "penghancur bunker" yang dirancang untuk menghancurkan fasilitas pengayaan nuklir Iran yang tersembunyi di bawah tanah, seperti Fordo. Gedung Putih meminta para pendukung Trump untuk mempercayai penilaiannya saat ia memutuskan langkah selanjutnya. Leavitt menekankan keyakinan pada insting Trump dalam menangani situasi ini, mengindikasikan bahwa keputusan akhir akan didasarkan pada kombinasi informasi intelijen, pertimbangan strategis, dan penilaian pribadi presiden.