Penggunaan Intensif ChatGPT Berpotensi Menurunkan Aktivitas Kognitif Otak

Studi MIT Ungkap Dampak Penggunaan ChatGPT Terhadap Aktivitas Otak

Sebuah studi terbaru dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menyoroti potensi dampak negatif penggunaan alat bantu kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT terhadap aktivitas otak manusia. Penelitian ini mengindikasikan bahwa ketergantungan berlebihan pada AI dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis dan memicu penurunan fungsi kognitif.

Penelitian yang berjudul "Your Brain on ChatGPT: Accumulation of Cognitive Debt when Using AI Assistant for Essay Writing Task" meneliti bagaimana penggunaan ChatGPT mempengaruhi kerja otak. Dalam studi ini, para peneliti melibatkan 54 mahasiswa dari wilayah Boston, Amerika Serikat, dan membagi mereka menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama bertugas menulis esai tanpa bantuan alat apapun (kelompok "brain-only"). Kelompok kedua menggunakan mesin pencari sebagai alat bantu, dan kelompok ketiga sepenuhnya mengandalkan ChatGPT untuk menyelesaikan tugas penulisan.

Selama proses penulisan esai yang berlangsung selama 20 menit, aktivitas otak setiap peserta dipantau menggunakan headset elektroensefalogram (EEG). Pemantauan ini dilakukan sebanyak empat kali dalam periode beberapa bulan untuk mengukur beban kerja kognitif dan tingkat konsentrasi masing-masing peserta. Hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan antara ketiga kelompok.

Kelompok yang menggunakan ChatGPT menunjukkan penurunan aktivitas otak yang paling signifikan, mencapai penurunan sebesar 55% dibandingkan dengan kelompok "brain-only". Sementara itu, kelompok yang menggunakan mesin pencari mengalami penurunan aktivitas otak antara 34% hingga 48%. Para peneliti dari MIT menjelaskan bahwa kelompok "brain-only" mengandalkan jaringan saraf yang lebih luas dan terdistribusi untuk menghasilkan konten secara internal. Sebaliknya, kelompok yang menggunakan ChatGPT cenderung hanya mengandalkan saran yang diberikan oleh chatbot tanpa melakukan proses berpikir mandiri yang mendalam.

Peneliti menyebutkan bahwa pola ini berpotensi menimbulkan "utang kognitif," yaitu kondisi di mana seseorang menjadi terlalu bergantung pada alat bantu teknologi sehingga kemampuan otaknya melemah. Dampak negatif ini juga tercermin dalam kemampuan daya ingat peserta terhadap tulisan yang mereka hasilkan. Peserta dari kelompok pengguna ChatGPT terbukti memiliki daya ingat yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok "brain-only".

Dalam sesi lanjutan, para peneliti melakukan pertukaran metode antar kelompok. Kelompok yang sebelumnya menggunakan ChatGPT diminta untuk menulis esai tanpa bantuan apa pun, dan sebaliknya. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta dari kelompok pengguna ChatGPT mengalami kesulitan dalam menyusun tulisan sendiri, sementara kelompok "brain-only" menunjukkan peningkatan konektivitas otak ketika diberi akses ke AI.

"Kelompok LLM berprestasi lebih buruk daripada rekan mereka dalam kelompok brain-only di semua tingkatan," ungkap tim peneliti. Studi ini memberikan indikasi awal mengenai potensi dampak negatif penggunaan berlebihan alat bantu AI terhadap fungsi kognitif otak manusia. Penelitian ini menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pengembangan kemampuan berpikir mandiri.