Wall Street Bergelora: Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi, Nvidia Jadi Motor Penggerak
Bursa saham Amerika Serikat mencatatkan performa impresif pada penutupan perdagangan hari Rabu, dengan indeks Nasdaq Composite berhasil mencetak rekor tertinggi baru. S&P 500 juga mengalami kenaikan signifikan, didorong oleh performa saham Nvidia yang terus melaju.
Indeks S&P 500 ditutup pada level 6.263,26, naik sebesar 0,61 persen. Nasdaq Composite melesat 0,94 persen dan berakhir pada 20.611,34, menandai rekor penutupan baru. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average meningkat 217,54 poin atau 0,49 persen, ditutup pada 44.458,30.
Nvidia menjadi bintang utama dalam reli kali ini. Saham perusahaan semikonduktor ini melonjak 1,8 persen dan sempat menyentuh kapitalisasi pasar 4 triliun dollar AS, sebuah pencapaian yang belum pernah diraih perusahaan lain sebelumnya. Kinerja impresif Nvidia turut menyeret saham-saham teknologi raksasa lainnya, seperti Meta Platforms, Microsoft, dan Alphabet, yang juga mengalami kenaikan.
Kenaikan saham-saham teknologi ini mengindikasikan kembalinya minat investor terhadap sektor kecerdasan buatan (AI). Investasi pada sektor AI menjanjikan keuntungan yang sangat besar di masa depan. Perkembangan AI akan mengubah lanskap industri dan sosial secara fundamental.
Pergerakan pasar saham ini terjadi di tengah perhatian investor terhadap kebijakan tarif yang dikeluarkan oleh Presiden AS Donald Trump. Pada hari Rabu, Trump menerbitkan surat yang menetapkan tarif baru untuk barang-barang impor dari sejumlah negara, termasuk Filipina dan Irak. Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari pengumuman tarif serupa yang ditujukan kepada 14 negara lain, termasuk Korea Selatan dan Jepang, pada awal pekan ini.
Tarif baru yang ditetapkan berkisar antara 20 hingga 40 persen dan akan mulai berlaku pada 1 Agustus mendatang. Selain itu, Trump juga mengumumkan pungutan sebesar 50 persen untuk impor tembaga dan mengisyaratkan kemungkinan pengenaan tarif khusus sektor lainnya dalam waktu dekat.
Pada hari Selasa, Trump juga menyampaikan ancaman untuk mengenakan tarif hingga 200 persen terhadap produk farmasi yang diimpor ke AS. Namun, ia memberikan kelonggaran waktu sekitar satu hingga satu setengah tahun sebelum tarif tersebut diberlakukan.
Kendati demikian, para pelaku pasar tampaknya tidak terlalu terpengaruh oleh berita terkait tarif baru ini, dan lebih fokus pada potensi pertumbuhan sektor teknologi, terutama yang terkait dengan kecerdasan buatan.