MAKI Apresiasi Adhyaksa Awards Sebagai Upaya Berkelanjutan Berantas Korupsi
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Adhyaksa Awards 2025. Boyamin Saiman, Koordinator MAKI, menilai ajang penghargaan ini sebagai bentuk komitmen Kejaksaan Republik Indonesia dalam upaya berkelanjutan memberantas korupsi di tanah air.
Boyamin menyampaikan harapannya agar Adhyaksa Awards dapat terus dilaksanakan setiap tahunnya. Menurutnya, konsistensi penyelenggaraan acara ini akan semakin memantapkan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. "Kita sambut baik bahwa akhirnya Adhyaksa Awards yang kedua ini benar-benar terwujud. Awalnya, saya berharap sejak acara pertama tahun lalu, acara ini dapat berlangsung setiap tahun, dan ternyata hal itu terwujud," ujar Boyamin.
Ia menambahkan, keberhasilan penyelenggaraan Adhyaksa Awards untuk kedua kalinya menjadi indikasi positif bahwa acara ini akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. Boyamin juga menyoroti salah satu kategori penghargaan yang menarik perhatian publik, yaitu Jaksa Tangguh dalam Pemberantasan Korupsi. Ia mengungkapkan bahwa dirinya kembali dilibatkan sebagai Dewan Pakar dalam kategori tersebut.
"Saya ingat betul bahwa kategori Jaksa Tangguh merupakan yang paling utama karena sesuai dengan spesifikasi saya di bidang pemberantasan korupsi. Saya memang fokus di situ," kata Boyamin. Penghargaan Jaksa Tangguh dalam Pemberantasan Korupsi diberikan kepada jaksa-jaksa yang memiliki integritas tinggi dan konsisten dalam menangani kasus-kasus korupsi. Mereka tidak hanya aktif di ruang sidang, tetapi juga terlibat langsung dalam mengungkap praktik-praktik korupsi yang sering kali tersembunyi.
Sebagai informasi tambahan, pada tahun sebelumnya, penghargaan ini diraih oleh Kuntadi, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung. Saat ini, Kuntadi menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Kuntadi dinilai berhasil mengungkap berbagai kasus korupsi besar di Indonesia, termasuk kasus korupsi PT Timah yang melibatkan nama Harvey Moeis.
Kuntadi, saat menerima penghargaan Adhyaksa Awards tahun lalu, menyatakan bahwa penghargaan tersebut bukanlah akhir dari perjuangannya. Sebaliknya, penghargaan tersebut justru menjadi motivasi untuk terus berupaya mengungkap kasus-kasus korupsi lainnya. Ia berharap dapat terus memberikan kontribusi dalam pemberantasan korupsi di Indonesia.