Inovasi Limbah: Kreasi Tas Eceng Gondok dari Batam Mendunia Hingga Turki
Di tengah perairan Waduk Duriangkang, Batam, tumbuh subur eceng gondok, tanaman air yang kerap dianggap sebagai gulma pengganggu. Namun, di tangan lima ibu rumah tangga (IRT) kreatif dari Kelurahan Mangsang, Kecamatan Sei Beduk, tanaman ini bertransformasi menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan. Mereka menyulap eceng gondok menjadi berbagai produk kerajinan tangan bernilai tinggi, bahkan menembus pasar internasional hingga ke Turki.
Isnawati, salah seorang penggerak usaha ini, menceritakan bahwa ide kreatif ini bermula pada tahun 2013. Ia melihat potensi serat eceng gondok dan menciptakan sepasang sandal unik. Dari sinilah, bersama empat rekannya, Isnawati mulai mengembangkan berbagai produk inovatif seperti tas, sandal, pot bunga, hingga furnitur. Awalnya, produk-produk ini hanya dibuat untuk keperluan pribadi, namun kemudian menarik perhatian teman dan tetangga, hingga akhirnya berkembang menjadi usaha rumahan yang diberi nama Isnapuring.
Dulu, mereka harus bersusah payah memanen eceng gondok sendiri di Waduk Duriangkang, kemudian menjemurnya sebelum diolah menjadi produk kerajinan. Kini, seiring perkembangan usaha, mereka tidak lagi memanen sendiri, tetapi sesekali mengunjungi waduk untuk mengenang masa-masa awal merintis usaha. Usaha mereka pun semakin berkembang, bahkan mampu meraup keuntungan hingga Rp 10 juta per bulan dari pasar lokal dan luar Batam. Kesuksesan ini membawa mereka masuk dalam program Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (BI).
Melalui program tersebut, produk-produk Isnapuring semakin dikenal dan berhasil menembus pasar Singapura, Malaysia, hingga Turki. Permintaan akan tas rajutan, pot bunga, dan dekorasi rumah terus meningkat. Isnawati kini bahkan melibatkan ibu rumah tangga lainnya sebagai tenaga tambahan untuk memenuhi permintaan pasar yang semakin besar.
"Khusus untuk pasar Turki, mereka biasanya memesan 150 tas rajutan eceng gondok setiap bulan. Menurut mereka, tas-tas ini sangat diminati oleh wisatawan yang berkunjung ke negara mereka," ungkap Isnawati dengan bangga.
Abdun Baskoro Cahyo, Pengurus Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI) Kepri, mengapresiasi potensi besar UMKM di Batam untuk bersaing di pasar internasional. Ia mencatat bahwa sektor fesyen, meskipun hanya digeluti oleh beberapa UMKM, memiliki kontribusi ekspor yang signifikan.
Bank Indonesia terus berupaya memberikan dukungan dan pendampingan kepada UMKM, termasuk memfasilitasi business matching dengan buyer luar negeri. Lokasi Kepri yang strategis, berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, menjadi keuntungan tersendiri dalam berkomunikasi dengan pembeli potensial.