Keheningan di Kantor Kelurahan Jatiraden Usai Polemik Proposal Sumbangan AC
Keheningan di Kantor Kelurahan Jatiraden Usai Polemik Proposal Sumbangan AC
Kantor Kelurahan Jatiraden, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, menampakkan suasana yang tak biasa pada Rabu (12/3/2025). Keheningan menyelimuti kantor tersebut, jauh berbeda dari hari-hari biasanya. Hanya sekitar tiga petugas yang terlihat berjaga, sementara kursi tunggu warga tampak kosong melompong. Suasana sepi ini muncul pasca viralnya pengajuan proposal sumbangan pengadaan air conditioner (AC) oleh pihak kelurahan di media sosial.
Kompas.com yang melakukan peninjauan langsung di lokasi mendapati kantor yang minim aktivitas. Beberapa lampu ruangan tampak mati, mengandalkan cahaya matahari yang masuk melalui jendela sebagai penerangan utama. Hanya kipas angin kecil di dinding yang berputar pelan, menjadi satu-satunya tanda kehidupan di dalam kantor tersebut. Di lantai dua, ruangan Lurah dan Sekretaris Kelurahan tampak lengang. Ketidakhadiran Lurah Agus Budiyanto menambah kesan sepi yang menyelimuti kantor kelurahan tersebut. Menurut keterangan salah seorang petugas yang enggan disebutkan namanya, Lurah Agus dikabarkan sedang mengurus agenda di pusat pemerintahan Kota Bekasi sejak pagi hari.
Polemik ini bermula dari unggahan seorang pengusaha, Eckha Luphcats Moslemorphosis, di media sosial. Dalam unggahannya, Eckha meluapkan kekesalannya atas praktik permintaan sumbangan yang kerap dilakukan oleh pemerintah daerah, termasuk Kantor Kelurahan Jatiraden. Eckha secara khusus menyoroti permintaan sumbangan untuk pengadaan AC, yang menurutnya tidak pantas dilakukan oleh sebuah instansi pemerintah. Ia mempertanyakan alokasi anggaran pemerintah dan menyinggung dugaan praktik korupsi yang mungkin terjadi.
"Lucu banget sih ini pemerintah. Ini bukan sekali atau dua kali kelurahan, kecamatan, minta sumbangan ke kami," tulis Eckha dalam unggahannya di media sosial, Selasa (11/3/2025). Ia melanjutkan, "Cuma dipikir-pikir kok eneg aja, ini sekelas pemerintahan kenapa jadi minta sama rakyatnya? Tentu mereka udah ada anggarannya loh ya dari negara. Mesti lapor ke mana sih ini? Gua yakin ini permainan mereka buat korup." Sentimen yang diungkapkan Eckha ini tampaknya telah berdampak signifikan terhadap citra publik Kantor Kelurahan Jatiraden, sehingga mengakibatkan suasana kantor yang sepi dan tidak kondusif.
Kejadian ini menjadi sorotan publik dan menimbulkan pertanyaan mendalam tentang transparansi pengelolaan anggaran pemerintah dan etika permintaan sumbangan dari instansi pemerintahan kepada masyarakat. Keheningan di Kantor Kelurahan Jatiraden menjadi refleksi dari kegaduhan yang terjadi di media sosial dan menimbulkan pertanyaan besar tentang tata kelola pemerintahan yang baik dan akuntabel.
Peristiwa ini juga mengundang berbagai spekulasi di masyarakat tentang kemungkinan adanya penyelewengan dana atau ketidakmampuan dalam mengelola anggaran yang telah tersedia. Ketiadaan Lurah di kantor selama seharian menambah kecurigaan publik. Kejelasan dan transparansi dari pihak terkait sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan polemik ini dan mengembalikan kepercayaan publik.