Sejarah dan Sinergi: Peran Margono Djojohadikusumo dalam Hubungan BNI, Koperasi, dan Program Pemerintah

Sejarah dan Sinergi: Peran Margono Djojohadikusumo dalam Hubungan BNI, Koperasi, dan Program Pemerintah

Direktur Institutional Banking BNI, Munadi Herlambang, baru-baru ini memaparkan sejarah panjang dan hubungan erat antara Bank Negara Indonesia (BNI), gerakan koperasi di Indonesia, dan peran penting Margono Djojohadikusumo, kakek Presiden Prabowo Subianto, dalam menjembatani ketiganya. Pernyataan ini disampaikan dalam acara 'Demi Indonesia, Ayo Berkoperasi' yang diselenggarakan di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Rabu (12/3/2025).

Herlambang menjelaskan bahwa keterkaitan tersebut tidak sekadar kebetulan, melainkan berakar pada sejarah. Margono Djojohadikusumo, yang merupakan tokoh kunci dalam sejarah perkoperasian dan pendiri BNI, telah meletakkan fondasi kuat yang hingga kini masih terasa dampaknya. "BNI memiliki komitmen yang kuat dalam mendukung Koperasi Desa," ujar Herlambang, "karena terdapat kesinambungan sejarah antara pendiri BNI dan tokoh sentral gerakan koperasi, yaitu Bapak Margono Djojohadikusumo." Hal ini, menurutnya, membentuk hubungan historis yang mendalam dan menjadi landasan bagi dukungan BNI terhadap program-program pemerintah yang berfokus pada pengembangan koperasi.

Lebih lanjut, Herlambang menjabarkan bagaimana BNI secara aktif berkolaborasi dengan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) dalam mendorong transformasi kelembagaan. Sebelum program Kopdes Merah Putih diluncurkan, BNI telah menjalankan program konversi badan hukum Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) menjadi koperasi. "Kerja sama dengan Kemenkop UKM ini telah berhasil mengubah sejumlah Gapoktan menjadi koperasi," jelasnya. Program ini terus berlanjut, dengan target terbaru pada Gapoktan di wilayah Yogyakarta. Inisiatif ini, menurut Herlambang, selaras dengan komitmen pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Program konversi Gapoktan menjadi koperasi tidak hanya sekedar perubahan status legalitas, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing petani. Dengan bernaung di bawah payung koperasi, para petani dapat mengakses sumber daya dan pasar yang lebih luas, serta memperoleh berbagai manfaat ekonomi lainnya seperti pengurangan risiko usaha. "Prinsip gotong royong dan kebersamaan yang menjadi dasar koperasi diharapkan dapat mengurangi risiko bisnis dan meningkatkan kesejahteraan petani," tambah Herlambang.

BNI, melalui kolaborasi strategis dengan Kemenkop UKM, memiliki visi jangka panjang untuk mengembangkan koperasi sebagai motor penggerak ekonomi nasional, mulai dari tingkat desa hingga skala nasional. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis desa dan meningkatkan ketahanan pangan. "Harapannya, koperasi dapat menjadi pilar ekonomi baru, mendukung program pemerintah seperti ketahanan pangan dan program makan bergizi gratis," pungkas Herlambang.

Acara 'Demi Indonesia, Ayo Berkoperasi' yang didukung oleh Kementerian Koperasi dan UKM, Lembaga Pengelola Dana Bergulir, BNI, dan PLN, menekankan pentingnya peran koperasi dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Kolaborasi antara berbagai pihak ini diharapkan akan menghasilkan dampak positif dan berkelanjutan bagi perekonomian Indonesia.

Target selanjutnya dari program konversi Gapoktan menjadi Koperasi adalah Gapoktan di wilayah Yogyakarta. BNI berkomitmen untuk mendukung penuh program pemerintah yang berkaitan dengan koperasi. Koperasi diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi dari desa hingga tingkat nasional.