Inovasi Kompor Oli Bekas di Nunukan: Solusi Tepat di Tengah Krisis Energi dan Ekonomi

Inovasi Kompor Oli Bekas di Nunukan: Solusi Tepat di Tengah Krisis Energi dan Ekonomi

Di tengah kelangkaan gas LPG 3 kg dan anjloknya harga rumput laut di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Eko Gunawan, seorang perantau yang bermukim di Jalan Keramat, Gang Rejeki, Nunukan, telah menciptakan solusi cerdas: kompor berbahan bakar oli bekas. Bengkel sederhana miliknya yang dipenuhi peralatan las, bor, dan gergaji besi menjadi saksi bisu dari inovasi yang mampu meringankan beban ekonomi masyarakat setempat.

Kompor-kompor oli bekas buatan Eko mencuri perhatian dengan warna-warna mencoloknya; perpaduan loreng, oranye, dan hitam menjadi daya tarik tersendiri. Eko menjelaskan strategi pemasarannya: "Warna yang eye catching menjadi kunci. Semakin mencolok, semakin menarik perhatian," ujarnya. Inovasi ini hadir sebagai jawaban atas kesulitan mendapatkan LPG yang seringkali terjadi di Nunukan, khususnya saat cuaca buruk mengganggu distribusi laut. Dengan harga LPG 3kg yang melambung hingga Rp 90.000 per tabung, kompor oli bekas menjadi alternatif yang sangat dibutuhkan.

Perjalanan Eko dalam menciptakan kompor ini bermula dari kebutuhan pribadi. Sebagai perantau yang harus berhemat, ia terdorong untuk mencari solusi hemat energi. Setelah melalui proses percobaan dan inovasi yang panjang, Eko berhasil menciptakan kompor oli yang menghasilkan api biru, sehingga mencegah menghitamnya peralatan masak dan menghilangkan bau oli. "Garansi seumur hidup, Insya Allah aman, dan tidak akan meledak," tegas alumni Universitas Hasanuddin Makassar, Fakultas Ilmu Komunikasi ini.

Kompor oli bekas buatan Eko telah terjual hingga ratusan unit, bahkan beberapa telah dikirim ke Sulawesi. Desainnya yang unik dilengkapi dua lubang pemasukan oli bekas dan blower angin, serta keran penyetel aliran oli dan tekanan blower, memungkinkan pengguna untuk mengatur besar kecilnya api. Eko mengklaim kompor ciptaannya mampu memasak lebih cepat dua kali lipat dibandingkan kompor gas, dengan satu liter oli bekas mampu digunakan selama tiga jam. Harga oli bekas yang hanya Rp 1.000 per liter menjadikannya jauh lebih ekonomis dibandingkan LPG.

Keunggulan kompor ini tidak hanya terletak pada sisi ekonomis, tetapi juga pada aspek lingkungan. Kompor oli bekas membantu mengurangi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh pembuangan oli bekas yang sembarangan. "Kita membantu mencegah pencemaran lingkungan," kata Eko. Pembuangan oli bekas ke laut, sungai, atau tanah dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang serius. Dengan memanfaatkannya sebagai bahan bakar, Eko memberikan solusi yang ramah lingkungan.

Penerimaan kompor oli bekas di Nunukan sangat positif, terutama di kalangan pelaku UMKM. Penjual jamu gendong, pengusaha pentol rebus, dan penjual tahu tektek adalah beberapa contoh pengguna kompor ini. Namun, dibalik keberhasilannya, Eko menyoroti kurangnya perhatian pemerintah terhadap inovasi ini, terutama di tengah krisis ekonomi yang tengah melanda Nunukan akibat anjloknya harga rumput laut. Ia berharap pemerintah daerah dapat lebih memperhatikan UMKM lokal dan mendukung inovasi seperti kompor oli bekas yang mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat.

Berikut beberapa poin penting mengenai kompor oli bekas karya Eko Gunawan:

  • Efisiensi: Satu liter oli bekas dapat digunakan selama tiga jam memasak, jauh lebih hemat dibandingkan gas LPG.
  • Ramah Lingkungan: Mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan oli bekas yang tidak bertanggung jawab.
  • Mudah Digunakan: Desain kompor yang sederhana dan mudah dioperasikan.
  • Harga Terjangkau: Bahan bakarnya sangat murah dan mudah didapat di bengkel-bengkel kendaraan.
  • Kinerja Memuaskan: Hasil masakan tidak berbeda dengan kompor gas atau listrik.