Wabah Demam Babi Afrika di Flores Timur: 148 Babi Mati, Ancaman Krisis Peternakan Kembali Mengintai
Wabah Demam Babi Afrika Kembali Mengancam Flores Timur
Kasus kematian massal babi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali meningkat tajam. Data Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunter) mencatat hingga pertengahan Maret 2025, telah tercatat 148 ekor babi mati akibat wabah penyakit. Angka ini menjadi peringatan serius mengingat potensi kerugian ekonomi yang signifikan, mengingat pengalaman pahit di tahun 2021 di mana lebih dari 60.000 babi mati akibat wabah serupa, mengakibatkan kerugian ekonomi mencapai miliaran rupiah. Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disbunter Flores Timur, Vian Kiti Tokan, mengungkapkan keprihatinannya atas peningkatan kasus kematian babi tersebut yang terjadi secara drastis. Pihaknya telah melakukan investigasi dan pengambilan sampel untuk mendiagnosis penyakit yang menyerang ternak babi tersebut.
Penyebaran dan Dampak Wabah di Kecamatan Larantuka
Kecamatan Larantuka menjadi pusat penyebaran wabah Demam Babi Afrika (ASF) ini. Data Disbunter menunjukan penyebaran yang tidak merata. Berikut rincian jumlah kematian babi per kelurahan di Kecamatan Larantuka:
- Kelurahan Sarotari Tengah: 45 ekor
- Kelurahan Puken Tobi Wangi Bao: 25 ekor
- Kelurahan Sarotari: 21 ekor
- Kelurahan Sarotari Timur: 13 ekor
- Kelurahan Pohon Sirih: 4 ekor
- Kelurahan Balela: 5 ekor
Sementara itu, di luar Kecamatan Larantuka, sejumlah kelurahan lain juga melaporkan kasus kematian babi, antara lain:
- Kelurahan Lewolere: 2 ekor
- Kelurahan Waibakun: 5 ekor
- Kelurahan Lohayong: 5 ekor
- Kelurahan Lokea: 3 ekor
- Kelurahan Pohon Bao: 2 ekor
- Kelurahan Weri: 2 ekor
- Kelurahan Amagarapati: 7 ekor
- Kelurahan Waihali: 6 ekor
- Kelurahan Pantai Besar: 6 ekor
- Kelurahan Postoh: 1 ekor
Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap beberapa sampel menunjukkan hasil positif terpapar virus ASF. Gejala yang muncul pada babi yang terinfeksi ASF antara lain kulit kemerahan, demam tinggi, dan kehilangan nafsu makan. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan mengingat potensi penyebaran yang cepat dan dampak ekonomi yang signifikan bagi peternak babi di Flores Timur.
Upaya Pencegahan dan Edukasi Masyarakat
Tokan mengungkapkan tantangan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan wabah ini. Meskipun edukasi telah dilakukan, masih ditemukan masyarakat, termasuk mereka yang berpendidikan, yang tetap menyembelih babi yang sakit. Hal ini mempercepat penyebaran virus dan mempersulit upaya pengendalian wabah. Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, petugas kesehatan hewan, dan masyarakat untuk mencegah meluasnya wabah ASF dan meminimalkan dampak ekonomi yang lebih besar. Pencegahan dan pengendalian wabah ini membutuhkan komitmen bersama untuk menerapkan protokol kesehatan hewan yang ketat dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya ASF dan pentingnya melaporkan segera setiap kasus kematian babi yang mencurigakan.
Langkah-langkah pencegahan dan edukasi yang lebih intensif dan komprehensif perlu dilakukan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. Peran serta aktif dari seluruh elemen masyarakat sangatlah krusial dalam menghadapi ancaman krisis peternakan ini.