Menghayati Cinta Tanpa Syarat kepada Allah SWT: Refleksi Ibadah dalam Perspektif Prof. Nasaruddin Umar
Menghayati Cinta Tanpa Syarat kepada Allah SWT: Refleksi Ibadah dalam Perspektif Prof. Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, dalam sebuah ceramah baru-baru ini, memberikan pencerahan mendalam tentang makna ibadah yang sesungguhnya. Beliau menekankan pentingnya memahami konsep unconditional love, atau cinta tanpa syarat, dalam hubungan kita dengan Allah SWT. Pernyataan umum tentang cinta, seperti "I love you", menurut beliau, memiliki keterbatasan karena mengandung unsur objektifitas, emosi yang fluktuatif, dan target tertentu, sehingga potensial diwarnai nafsu dan bersifat sementara. Prof. Nasaruddin menekankan perlunya pemahaman yang lebih substansial dan abadi mengenai cinta ilahiah.
Beliau membandingkan ungkapan "I love you" dengan "I'm in loving you." Ungkapan kedua, menurut beliau, lebih mencerminkan ketulusan dan keikhlasan yang mendalam, menunjukkan suasana hati yang senantiasa dipenuhi cinta tanpa pamrih dan tanpa batas waktu. Inilah inti dari unconditional love, sebuah pengabdian yang tulus kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam konteks ibadah, cinta ini bukan didorong oleh keinginan mendapatkan surga atau menghindari neraka, melainkan semata-mata karena dorongan hati yang murni dan penuh kerinduan kepada Sang Pencipta. Ibadah yang dijalankan dengan dasar cinta sejati akan terasa lebih bermakna dan membawa kita lebih dekat kepada Allah SWT.
Prof. Nasaruddin menuturkan, "Kenapa aku beribadah? Karena 'I'm in loving You.' Aku dalam suasana menghamba kepada-Mu, ya Allah." Beliau menggambarkan bagaimana ibadah yang dilandasi cinta tanpa syarat akan membawa dampak positif yang luar biasa. Contohnya, kisah para Nabi yang menerima perlindungan ilahiah sebagai manifestasi dari cinta dan ketaatan mereka kepada Allah SWT. Nabi Yunus AS yang diselamatkan dari perut ikan paus, Nabi Ibrahim AS yang selamat dari api, dan Nabi Daud AS yang terlindungi dari serangan tombak, semuanya menjadi bukti nyata atas keberkahan yang diperoleh dari cinta sejati kepada Allah SWT.
Lebih lanjut, Prof. Nasaruddin menjelaskan bahwa ketulusan cinta kepada Allah SWT akan memberikan perlindungan dan keberkahan dalam kehidupan. Seseorang yang benar-benar mencintai-Nya akan mendapatkan kasih sayang dan perlindungan dari segala keburukan. Keiman yang teguh akan melahirkan ketenangan jiwa dan keyakinan bahwa segala sesuatu berada dalam kendali Sang Pencipta. Dengan demikian, unconditional love ini bukan hanya sekadar konsep teologis, tetapi juga pilar fundamental bagi kehidupan yang penuh makna dan keberkahan.
Dalam kesimpulannya, Prof. Nasaruddin mengajak kita untuk senantiasa memperkuat cinta tanpa syarat kepada Allah SWT, khususnya di bulan Ramadan. Ibadah yang kita kerjakan hendaknya bukan karena rasa takut atau berharap imbalan, melainkan karena ketulusan hati yang mendalam. Dengan demikian, kita akan meraih kedamaian sejati dan semakin dekat kepada-Nya. Marilah kita renungkan pesan ini dan terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Catatan: Ceramah Prof. Nasaruddin Umar dapat disaksikan di detikcom setiap pukul 20.30 WIB selama bulan Ramadan.