Teheran Kecam Keras Serangan Udara AS di Yaman, Tegaskan Kedaulatan Kebijakan Luar Negeri

Teheran Kecam Keras Serangan Udara AS di Yaman, Tegaskan Kedaulatan Kebijakan Luar Negeri

Iran melontarkan kecaman keras terhadap serangan udara Amerika Serikat (AS) di Yaman yang menewaskan puluhan warga sipil, termasuk anak-anak. Serangan tersebut, yang digambarkan sebagai operasi militer terbesar AS di Timur Tengah sejak kepemimpinan Presiden Donald Trump, menimbulkan reaksi tegas dari pemerintah Iran yang menekankan kedaulatan kebijakan luar negerinya. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui pernyataan resmi di media sosial, dengan tegas menyatakan bahwa AS tidak memiliki hak untuk mendikte kebijakan luar negeri Iran. Pernyataan ini merupakan balasan atas desakan Presiden Trump agar Teheran menghentikan dukungannya terhadap kelompok Houthi.

Araghchi menegaskan bahwa era AS mendikte kebijakan luar negeri Iran telah berakhir sejak Revolusi Islam tahun 1979. Ia balik menuding AS sebagai pelaku pembunuhan warga Yaman dan mendesak penghentian serangan udara yang dinilai sebagai pelanggaran HAM berat. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, yang menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap Piagam PBB. Angka korban tewas akibat serangan udara AS, menurut otoritas kesehatan Yaman yang dikuasai Houthi, mencapai sedikitnya 53 orang, termasuk 5 anak-anak. Seorang pejabat Washington, yang tidak disebutkan namanya, kepada Reuters mengatakan bahwa operasi militer tersebut diperkirakan akan berlangsung selama beberapa minggu.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa serangan terhadap Houthi akan terus dilakukan selama kelompok tersebut masih mengancam jalur pelayaran internasional di Laut Merah. Serangan ini dipicu oleh kekhawatiran AS terhadap aktivitas Houthi yang dianggap mengganggu jalur pelayaran vital tersebut. Presiden Trump sendiri sebelumnya telah menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan tindakan tegas dan kuat untuk mengakhiri ancaman Houthi.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Komandan Garda Revolusi Iran, Hossein Salami, menegaskan bahwa Iran tidak akan memulai perang, tetapi akan memberikan respons yang tegas dan pasti jika merasa terancam. Salami juga menekankan bahwa Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman selama lebih dari satu dekade, mengambil keputusan strategis dan operasional secara independen. Houthi sendiri merupakan bagian dari “poros perlawanan” yang pro-Iran dan menentang AS serta Israel, dan telah melancarkan serangan terhadap Israel dan jalur pelayaran internasional di Laut Merah sejak perang berkecamuk di Jalur Gaza.

Situasi ini memperlihatkan peningkatan signifikan dalam ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pernyataan-pernyataan tegas dari kedua belah pihak menunjukkan potensi eskalasi konflik, mengingat kepentingan strategis yang dipertaruhkan di kawasan tersebut, khususnya terkait jalur pelayaran Laut Merah dan pengaruh regional Iran dan AS.

Ringkasan Poin Penting:

  • Iran mengecam keras serangan udara AS di Yaman yang menewaskan puluhan warga sipil.
  • Iran menegaskan kedaulatan kebijakan luar negerinya dan menolak intervensi AS.
  • AS menyatakan serangan tersebut sebagai tindakan tegas untuk melindungi jalur pelayaran Laut Merah.
  • Houthi, yang didukung Iran, tetap menjadi faktor utama dalam konflik di Yaman dan mengancam jalur pelayaran internasional.
  • Potensi eskalasi konflik di Timur Tengah meningkat seiring pernyataan-pernyataan keras dari kedua belah pihak.