Polusi Udara dan Bau Sampah RDF Rorotan Kembali Picu Protes Warga Cakung

Polusi Udara dan Bau Sampah RDF Rorotan Kembali Picu Protes Warga Cakung

Keluhan warga terkait pencemaran udara dan bau busuk yang ditimbulkan oleh pabrik pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara, kembali mencuat. Kali ini, protes datang dari sekitar 25.000 kepala keluarga (KK) di 18 RT dan 20 klaster perumahan di Cakung, Jakarta Timur, yang merasakan dampak serius dari aktivitas pabrik tersebut. Warga melaporkan aroma menyengat yang tak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga kesehatan, terutama anak-anak. Salah satu contohnya adalah surat protes dari seorang anak berusia 5 tahun, Kefas, yang mengaku mual dan kehilangan nafsu makan akibat bau sampah yang masuk ke rumahnya.

Pengurus RT 18 RW 14 di perumahan JGC, Wahyu Andre Maryono, mewakili warga yang terdampak. Ia menjelaskan sembilan klaster perumahan, yaitu Shinano, Mahakam, Savoy, La Seine, Yarra, South Thames, North Thames, South Mississippi, dan North Mississippi, paling terdampak bau busuk dan asap hitam pekat yang berasal dari cerobong RDF Rorotan. Jarak pabrik yang hanya sekitar 800 meter dari perumahan JGC, menurut Andre, menjadi faktor utama pencemaran yang signifikan. Selain perumahan, perkampungan di belakang perumahan JGC juga merasakan dampak serupa. Keluhan warga bukan hanya sebatas bau busuk, tetapi juga keberadaan serpihan kertas hasil pembakaran yang kerap ditemukan di sekitar permukiman. Andre menambahkan, klaster perumahan lainnya juga terdampak, meskipun intensitasnya bergantung pada arah angin.

Protes warga ini bukan kali pertama terjadi. Bulan lalu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta mengakui adanya permasalahan pada pabrik RDF Rorotan, menyebutkan beberapa faktor penyebab bau tak sedap, antara lain: malfungsi deodorizer, pengolahan limbah cair (wastewater treatment) yang kurang maksimal, dan cerobong asap yang perlu perbaikan. Kepala DLH Jakarta, Asep Kuswanto, saat itu menyatakan bahwa pihak pelaksana proyek terus melakukan perbaikan untuk memastikan operasional RDF berjalan sesuai standar dan tidak mengganggu lingkungan sekitar. Namun, keluhan warga yang kembali muncul mengindikasikan bahwa perbaikan yang dilakukan belum efektif mengatasi masalah pencemaran udara dan bau yang mengganggu kesehatan masyarakat.

Pabrik RDF Rorotan dirancang untuk mengolah 2.500 ton sampah per hari, menghasilkan 875 ton Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara. Residu pengolahan sampah berupa kepingan kaleng, kayu, dan material lainnya. Namun, tujuan mulia dari proyek ini tampaknya terhambat oleh masalah operasional dan dampak lingkungan yang signifikan. Keberadaan pabrik RDF Rorotan, yang seharusnya menjadi solusi pengelolaan sampah, justru menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan bagi warga sekitar. Pemerintah daerah perlu segera mengambil langkah konkret dan efektif untuk mengatasi permasalahan ini, mencegah dampak kesehatan yang lebih luas, dan menjamin hak warga atas lingkungan yang sehat dan bersih.

Daftar Klaster Perumahan Terdampak:

  • Shinano
  • Mahakam
  • Savoy
  • La Seine
  • Yarra
  • South Thames
  • North Thames
  • South Mississippi
  • North Mississippi