Banjir Cililitan Kembali Rendam Rumah Ibunda Opie Kumis: Keukeuh Bertahan di Usia 90 Tahun

Banjir Cililitan Kembali Rendam Rumah Ibunda Opie Kumis: Keukeuh Bertahan di Usia 90 Tahun

Banjir yang melanda Jabodetabek beberapa waktu lalu kembali menguji ketahanan warga di sejumlah wilayah, tak terkecuali di kawasan Rawa Sepat, Cililitan, Jakarta Timur. Di daerah yang merupakan kampung halaman komedian Opie Kumis ini, banjir kembali merendam rumah ibunda Opie Kumis yang telah berusia 90 tahun. Peristiwa ini bukanlah yang pertama kali; rumah tersebut telah berulang kali terendam banjir, termasuk kejadian yang cukup parah pada tahun 2007 lalu.

Meskipun Opie Kumis sendiri dan keluarganya telah pindah ke Condet, sang ibunda tetap memilih untuk tinggal di rumah peninggalan nenek moyang tersebut. Banjir kali ini, yang terjadi pada awal Maret 2025, menurut Opie Kumis, datang dalam dua gelombang. Gelombang pertama hanya setinggi mata kaki orang dewasa. Namun, setelah sahur, banjir datang kembali dengan intensitas yang jauh lebih besar, mencapai ketinggian 2,5 meter dan baru surut setelah tiga hari. Akibatnya, ibunda Opie Kumis dan keluarganya terpaksa mengungsi. Meskipun tidak separah banjir tahun 2007 yang mencapai ketinggian 4 meter, peristiwa ini kembali menyoroti keuletan dan keteguhan hati seorang perempuan berusia lanjut yang memilih bertahan di tengah ancaman banjir yang berulang.

Opie Kumis mengungkapkan bahwa warga asli Cililitan sudah terbiasa dengan banjir. Mereka mampu mengenali tanda-tanda akan datangnya banjir, seperti peningkatan debit air di Kali Ciliwung. "Kalau daerah gue udah akrab sama air, misal Katulampa siaga 2 atau 1 emak gue pasti ke depan rumah, 'Comberan udah sampai ke lubang angin nih,' dia udah langsung pindah-pindahin barang tuh," ungkap Opie Kumis. Namun, kebiasaan ini tak lantas membuat mereka pasrah. Mereka tetap waspada dan berusaha menyelamatkan barang-barang berharga sebelum banjir datang.

Sikap ibunda Opie Kumis yang enggan pindah rumah meski telah berusia 90 tahun dan rumahnya menjadi langganan banjir menarik perhatian. Opie Kumis menceritakan keteguhan hati ibunya yang begitu kuat terikat dengan tanah kelahirannya. "Betawi itu kadang-kadang gini, totok banget. 'Mak pindah aja ke Condet'. Kata dia, 'Gue sih sampai titik darah terakhir mau di sini. Ini dari nenek lu ada, ampe gue umur 90 nih sekarang'. Dia nggak mau, di situ aja maunya. 'Pokoknya nggak gue udah sini aja', gitu katanye," tutur Opie Kumis. Keteguhan ini mencerminkan keterikatan emosional yang dalam antara warga asli dengan lingkungan tempat mereka tinggal.

Meskipun banjir telah surut, kesulitan masih dirasakan. Lumpur setebal betis memenuhi rumah, membuat rumah tersebut belum dapat ditempati. Opie Kumis juga menyayangkan kondisi Kali Ciliwung yang semakin kotor dan tercemar dibandingkan saat ia masih muda. Ia membandingkan pengalaman masa mudanya ketika masih bisa bermain di sungai dengan kondisi sungai saat ini yang penuh sampah. Perbedaan ini menyiratkan keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan yang turut memperparah dampak banjir. Opie Kumis pun menyoroti perbedaan sikap antara warga pendatang dan warga asli dalam menghadapi banjir. Warga pendatang cenderung memilih pindah, sementara warga asli, seperti ibunya, memilih bertahan. Perbedaan ini menunjukkan adaptasi dan keterikatan yang berbeda terhadap lingkungan tempat tinggal.

Kejadian ini juga menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan lingkungan yang baik untuk mencegah banjir dan juga pentingnya mempertimbangkan aspek sosial dan emosional dalam menghadapi bencana alam.