Emas Tembus Rekor Tertinggi di Tengah Gejolak Ekonomi Global
Emas Tembus Rekor Tertinggi di Tengah Gejolak Ekonomi Global
Harga emas kembali menorehkan sejarah dengan menembus level tertinggi sepanjang masa, melampaui angka US$ 3.000 per ons troi. Pada Selasa (18/3/2025) pukul 15.39 WIB, harga emas spot tercatat pada US$ 3.024,83 per ons troi, menanjak 0,81 persen dibandingkan hari sebelumnya yang berada di angka US$ 3.000,60 per ons troi. Kenaikan ini didorong oleh sejumlah faktor global yang menciptakan ketidakpastian ekonomi dan meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven.
Ketegangan geopolitik yang terus berlangsung di Timur Tengah, ditambah dengan polemik perdagangan antar negara-negara dengan mata uang utama dunia, menjadi katalis utama penguatan harga emas. Para analis menilai situasi ini sebagai faktor pendorong utama permintaan emas yang meningkat tajam. Ketidakpastian ekonomi global ini mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman, sehingga emas menjadi pilihan yang menarik untuk melindungi nilai investasi di tengah fluktuasi pasar.
Wahyu Laksono, Founder Traderindo, memperkirakan tren kenaikan harga emas masih akan berlanjut dalam jangka menengah hingga panjang. Menurutnya, ketidakpastian ekonomi global saat ini menjadi faktor utama yang mendukung prospek bullish emas. "Prospek emas masih sangat positif, baik dalam jangka menengah maupun panjang," tegas Wahyu dalam keterangannya kepada Kontan.
Pandangan senada diungkapkan oleh Nanang Wahyudin, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures. Ia menyorot potensi resesi di Amerika Serikat (AS) sebagai faktor penentu peningkatan permintaan emas. Nanang menambahkan bahwa kebijakan tarif yang diterapkan AS terhadap Meksiko, Kanada, dan China telah memicu kekhawatiran akan perang dagang global, yang berpotensi menekan ekonomi global dan meningkatkan inflasi. Kondisi ini tentunya akan mendorong investor mencari perlindungan aset dalam bentuk emas.
Selain itu, potensi penurunan suku bunga The Fed juga turut memberikan sentimen positif bagi harga emas. Pelemahan dolar AS akibat penurunan suku bunga akan membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor internasional. Konflik yang berkepanjangan di Yaman dan Gaza semakin memperkuat sentimen ini dengan meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Dalam konteks strategi investasi, Nanang menyarankan investor jangka pendek dan menengah untuk memperhatikan volatilitas harga emas, terutama menjelang pengumuman suku bunga The Fed. Pemantauan level support dan resistance menjadi kunci dalam menentukan titik masuk dan keluar yang optimal. Sementara itu, bagi investor jangka panjang, emas tetap menjadi instrumen investasi yang menjanjikan sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi global. "Kehadiran emas dalam portofolio investasi dapat membantu diversifikasi dan melindungi nilai aset dari gejolak pasar," jelas Nanang.
Nanang memproyeksikan area support emas terdekat berada di rentang US$ 2.970 hingga US$ 2.930 per ons troi, sementara level resistance berada di kisaran US$ 3.020 hingga US$ 3.050 per ons troi. Untuk jangka menengah, Wahyu memperkirakan harga emas akan bergerak di kisaran US$ 3.100 hingga US$ 3.500 per ons troi.
Kesimpulan: Harga emas yang terus meroket menunjukkan kekhawatiran investor terhadap ketidakstabilan ekonomi global. Emas, sebagai aset safe haven, menjadi pilihan utama untuk melindungi portofolio investasi di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik.