Penerapan ESG di Indonesia: Tingkat Kesadaran Publik Masih Terbatas Meski Praktiknya Meningkat
Penerapan ESG di Indonesia: Tingkat Kesadaran Publik Masih Terbatas Meski Praktiknya Meningkat
Survei terbaru Litbang Kompas yang dipaparkan dalam Lestari Forum 2025, bertajuk "Building Resilience Through Inclusivity", mengungkap adanya disparitas signifikan antara praktik dan pemahaman masyarakat Indonesia terkait prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Meskipun survei menunjukkan 77,5 persen masyarakat telah mengadopsi prinsip-prinsip ESG dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui pilihan transportasi ramah lingkungan dan produk berkelanjutan, angka ini kontras dengan rendahnya tingkat pemahaman mendalam tentang konsep ESG itu sendiri. Hanya 18 persen responden yang mengaku memahami konsep ESG secara komprehensif. Temuan ini disampaikan oleh Deputy General Manager Litbang Kompas, BE Satrio, pada Selasa (18/3/2025) di Jakarta. Lebih lanjut, BE Satrio menekankan tingginya dukungan masyarakat terhadap penerapan sanksi yang lebih berat bagi perusahaan yang terbukti melanggar standar ESG.
Berdasarkan pemantauan media Litbang Kompas, ESG memainkan peran krusial dalam sektor perbankan, khususnya dalam pembiayaan hijau (green financing) dan kebijakan kredit berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kesadaran publik masih terbatas, adopsi prinsip ESG secara praktis sudah mulai terlihat dan berdampak pada sektor-sektor ekonomi utama di Indonesia. Namun, perbedaan antara praktik dan pemahaman ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya mendorong penerapan ESG yang lebih luas dan efektif di Tanah Air.
Inklusivitas sebagai Pilar Penguatan Organisasi
Dalam forum yang sama, Founder Green Network Asia, Jalal, mengungkapkan pentingnya inklusivitas, bukan hanya sebagai elemen simbolik, tetapi sebagai fondasi keragaman kognitif yang aktif didengar dan dipertimbangkan. Beliau berpendapat bahwa organisasi yang mampu mengakomodasi beragam perspektif akan melahirkan keputusan yang lebih inovatif dan efektif. Sayangnya, banyak organisasi masih terjebak dalam "ketidakadilan epistemik", di mana suara dan pandangan dari kelompok tertentu diabaikan. Kondisi ini, menurut Jalal, menghambat ketangguhan organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan. Jalal menekankan pentingnya memastikan semua suara memiliki bobot yang sama untuk menciptakan organisasi yang adaptif dan bahkan "anti-fragile", yakni organisasi yang semakin kuat setelah menghadapi krisis. Inklusivitas dan pemanfaatan kecerdasan kolektif dianggap krusial dalam mempersiapkan organisasi menghadapi risiko global dan lokal yang semakin kompleks.
Lestari Awards 2025: Mendorong Komitmen Keberlanjutan
VP Sustainability KG Media, Wisnu Nurgoho, menjelaskan bahwa Lestari Awards 2025 merupakan bentuk apresiasi terhadap komitmen nyata perusahaan dalam membangun masa depan yang berkelanjutan. Penghargaan ini dirancang untuk memberikan keunggulan kompetitif bagi para penerima, termasuk peningkatan reputasi, kepercayaan publik, daya saing, dan inspirasi bagi industri. Wisnu menegaskan bahwa keberlanjutan bukan hanya sekadar tanggung jawab, tetapi juga peluang untuk berinovasi dan mengembangkan bisnis. Para pemenang Lestari Awards 2025 akan mendapatkan berbagai manfaat, antara lain:
- Media exposure yang luas.
- Trofi sebagai simbol komitmen berkelanjutan.
- Pelatihan yang bekerjasama dengan UNDP dan lembaga akademi Indonesia yang fokus pada SDGs.
- Kesempatan untuk mengikuti Asia ESG Positive Impact Consortium (AEPIC) di Kuala Lumpur, Malaysia pada November 2025.
Pendaftaran Lestari Awards 2025 telah dibuka sejak 20 Februari 2025 hingga 13 Juli 2025 melalui laman lestari.kgmedia.id/award. Sebagai bagian dari Lestari Summit, Lestari Awards bertujuan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem keberlanjutan, memperkuat praktik keberlanjutan di Indonesia, dan mempromosikan inisiatif lokal ke kancah global. Dengan dukungan asesor independen dan mitra strategis, Lestari Awards diharapkan mampu menjadi katalis percepatan penerapan ESG di Indonesia.