Gelombang Protes di Israel Kecam Eskalasi Konflik Gaza: Netanyahu Tuai Kecaman Publik

Gelombang Protes di Israel Kecam Eskalasi Konflik Gaza: Netanyahu Tuai Kecaman Publik

Eskalasi konflik di Jalur Gaza pasca serangan udara Israel terbaru memicu gelombang protes besar-besaran di berbagai penjuru Israel. Keputusan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk melanjutkan operasi militer di Gaza menuai kecaman keras dari sejumlah warga negara yang menuntut penghentian konflik dan fokus pada pembebasan sandera. Protes yang berlangsung di kota-kota besar seperti Tel Aviv dan Eshkol ini menampilkan ragam sentimen publik yang kritis terhadap langkah pemerintah.

Roy Emek, salah satu demonstran di Tel Aviv, menyuarakan keresahannya dengan tegas. Dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Al-Jazeera, Emek menilai keputusan Netanyahu untuk kembali melancarkan serangan udara sebagai upaya mempertahankan kekuasaan semata, bukan demi kepentingan Israel. “Satu-satunya alasan pemerintah ingin kembali berperang adalah untuk tetap berkuasa. Itu tidak ada hubungannya dengan apa yang terbaik bagi Israel,” tegas Emek, menyiratkan adanya motif politik di balik keputusan tersebut. Sentimen serupa juga diungkapkan oleh Einav Livne, seorang demonstran di Eshkol. Livne menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas keputusan tersebut, yang menurutnya justru mengorbankan keselamatan para sandera. “Apa yang terjadi adalah pengorbanan nyawa para sandera dan kemungkinan mengembalikan jenazah untuk dimakamkan dengan layak. Negara Israel, yang seharusnya melindungi warganya, sungguh mengerikan,” ujarnya, mengkritik keras kinerja pemerintah dalam menangani situasi tersebut.

Serangan udara terbaru yang dilancarkan oleh militer Israel, yang dilaporkan menewaskan lebih dari 400 warga sipil di Jalur Gaza pada Selasa, 18 Maret 2025, telah memicu kemarahan internasional. Gerakan Hamas, yang dituduh oleh Israel sebagai pihak yang menolak gencatan senjata dan pembebasan sandera, menyatakan bahwa pemerintah Netanyahu telah menggagalkan upaya perdamaian. Pihak Hamas menilai bahwa gencatan senjata tahap kedua, yang mereka usulkan, akan mendekatkan terwujudnya perdamaian permanen. Namun, Israel dan Amerika Serikat justru menginginkan perpanjangan gencatan senjata tahap pertama.

Seorang pejabat Israel yang berbicara kepada AFP menyatakan bahwa operasi militer tersebut akan terus berlanjut selama dianggap perlu dan cakupannya akan diperluas di luar serangan udara. Militer Israel, melalui sebuah pernyataan di Telegram, menyebut operasi tersebut sebagai serangan besar-besaran terhadap target-target milik Hamas di Jalur Gaza. Situasi ini semakin menegangkan, mengingat gencatan senjata tahap pertama telah berakhir, dan belum ada tanda-tanda akan adanya solusi damai dalam waktu dekat. Perbedaan pandangan antara Israel, Amerika Serikat, dan Hamas mengenai gencatan senjata menjadi penghalang utama dalam upaya mengakhiri konflik berdarah ini. Protes yang terus berlangsung menunjukkan ketidaksetujuan publik yang meluas terhadap kebijakan pemerintah dalam menangani konflik di Gaza, dan tekanan publik ini diharapkan dapat mendorong pemerintah untuk mencari solusi damai yang lebih terukur dan memperioritaskan keselamatan warga sipil.

Kronologi Kejadian:

  • Gencatan senjata tahap pertama berakhir.
  • Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di Gaza.
  • Lebih dari 400 orang tewas dalam serangan tersebut.
  • Hamas menuduh Israel menggagalkan gencatan senjata.
  • Protes besar-besaran terjadi di Israel menentang keputusan Netanyahu.
  • Israel menyatakan operasi militer akan berlanjut.