Kuliner Ramadhan Kampung Sunda: Sajian Nostalgia di Tengah Pulau Bali
Kuliner Ramadhan Kampung Sunda: Sajian Nostalgia di Tengah Pulau Bali
Di tengah hiruk pikuk Pulau Dewata, sebuah oase rasa hadir menyuguhkan sajian kuliner Ramadhan khas Sunda. Festival kuliner Ramadhan Kampung Sunda, yang berlangsung di Jalan Marlboro, Gang X, Denpasar, Bali, dari tanggal 1 hingga 20 Maret 2025, sukses membangkitkan kerinduan akan cita rasa kampung halaman bagi para perantau Jawa Barat. Acara yang bertajuk “Sono ku rasa, sono ku aya na” (rinduku terasa, rinduku ada di sini) ini tidak hanya menawarkan kelezatan kuliner, tetapi juga menjadi wadah bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mempromosikan produknya.
Salah satu stan yang menarik perhatian adalah Titipan Kampung Sunda Bali, yang dikelola oleh Muhammad Aditya Pratama (22). Dengan ramah, Aditya menawarkan kue cucur dan oncom kepada pengunjung. Kue cucur buatannya, dengan bentuk bulat lonjong yang khas Sunda – berbeda dengan bentuk kue cucur Bali yang umumnya pipih – langsung menarik minat para pengunjung. Tekstur padat dan sedikit renyah, dipadu rasa manis gula merah, menjadi daya tarik tersendiri. Kue cucur ini, yang terbuat dari tepung beras dan gula merah, dijual dengan harga Rp 2.500 per biji. Aditya menjelaskan bahwa bahan baku kue cucur dan oncom didatangkan langsung dari Jawa Barat untuk menjamin cita rasa otentik, sehingga harganya sedikit lebih tinggi dibandingkan kue cucur yang biasa dijual di Bali. “Iya, bahan-bahannya dari sana. Makanya ada orang bilang kok mahal, karena kami bahan-bahannya langsung dari sana,” ungkap Aditya yang berprofesi sebagai pengemudi taksi wisata.
Aura (22), seorang pengunjung yang berprofesi sebagai penjahit, mengaku terharu mencicipi kue cucur tersebut. Baginya, rasa kue cucur ini mengingatkannya pada kampung halamannya di Tasikmalaya, Jawa Barat. “Soalnya ingat sama kampung. (Beli kue cucur) untuk mengobati rindu sama kampung sendiri,” ujarnya. Hal senada juga dirasakan banyak perantau Jawa Barat lainnya yang hadir di festival ini.
Asep Abdullah Kepin (30), ketua panitia festival, menjelaskan bahwa acara ini bertujuan ganda. Pertama, memfasilitasi para pelaku UMKM Jawa Barat di Bali. Kedua, memperkenalkan kekayaan kuliner Jawa Barat kepada masyarakat Bali dan sekaligus membangkitkan rasa nostalgia para perantau. Festival ini menyediakan beragam kuliner khas Jawa Barat, meliputi:
- Combro
- Tutut
- Seblak
- Cireng
- Bakso
- Minuman tradisional lainnya
Festival yang berlangsung setiap sore mulai pukul 16.00 WITA hingga waktu berbuka puasa ini menawarkan lebih dari sekedar makanan; ia menawarkan sepotong kampung halaman di tengah kehangatan bulan Ramadhan. Suksesnya acara ini membuktikan bahwa kuliner tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan perut, tetapi juga mampu membangkitkan kenangan dan rasa rindu akan tanah kelahiran.