Inovasi Pengolahan Sampah Organik di Desa Kenteng: 100 Losida Kurangi Timbunan Sampah di TPS

Inovasi Pengolahan Sampah Organik di Desa Kenteng: 100 Losida Kurangi Timbunan Sampah di TPS

Program inovatif pengelolaan sampah organik tengah dijalankan di Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Sebanyak 100 unit Losida, atau lodong sisa dapur berupa paralon yang dimodifikasi, telah ditanam di tujuh dusun di desa tersebut. Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi volume sampah organik yang dikirim ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) dan memprosesnya menjadi pupuk organik di tingkat rumah tangga. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi beban TPS dan sekaligus mendorong praktik pertanian berkelanjutan.

Kepala Bidang Pelestarian Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Semarang, Agus Cahyadi, menjelaskan bahwa program Losida ini berpotensi mengurangi volume sampah rumah tangga hingga 60 persen jika diimplementasikan secara menyeluruh. Pemilihan Desa Kenteng sebagai lokasi percontohan didasarkan pada dua faktor utama: keberadaan Tempat Pembuangan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang telah ada dan antusiasme Pemerintah Desa Kenteng dalam mendukung program pengolahan sampah. Keberadaan TPS3R menunjukkan komitmen desa dalam pengelolaan sampah terpadu, yang selanjutnya akan mempermudah integrasi program Losida ini.

Lebih lanjut, Agus Cahyadi menambahkan bahwa DLH Kabupaten Semarang berencana untuk memperluas program ini ke beberapa desa lain pada tahun 2025. Desa-desa yang menjadi target selanjutnya antara lain Desa Gemawang (Kecamatan Jambu), Desa Pringsari (Kecamatan Pringapus), dan Desa Kesongo (Kecamatan Tuntang). Perencanaan ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menerapkan solusi berkelanjutan untuk masalah pengelolaan sampah.

Ketua Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII), Lidya Fransiska, menjelaskan secara teknis mengenai Losida. Losida merupakan paralon dengan panjang sekitar 1,5 meter yang dilubangi sepanjang paralon, kecuali 30 cm di bagian atas yang tetap utuh. Paralon ini kemudian ditanam di tanah, dan sampah organik rumah tangga dimasukkan ke dalamnya. Proses penguraian alami dalam tanah selama kurang lebih tiga minggu akan menghasilkan pupuk organik yang siap digunakan untuk menyuburkan tanaman. YPCII berperan dalam penyediaan paralon dan edukasi kepada masyarakat terkait cara pembuatan dan penggunaan Losida.

Keterlibatan YPCII juga menekankan aspek pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Melalui sosialisasi dan pelatihan, diharapkan masyarakat tidak hanya memahami cara membuat dan menggunakan Losida, tetapi juga menyadari pentingnya pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga. Hal ini menunjukkan pendekatan yang holistik, yang tidak hanya berfokus pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga pada perubahan perilaku dan kesadaran masyarakat.

Kepala Desa Kenteng, Nurtatik, mengungkapkan antusiasme warga dalam program ini. Sebanyak seratus Losida telah terpasang di tujuh dusun, yaitu Karang Lo, Jurang, Kenteng, Gelaran, Clowok, Ampelgading, dan Nggolak. Pemerintah Desa akan terus melakukan sosialisasi untuk mendorong lebih banyak warga yang berpartisipasi dalam program ini. Keberhasilan program ini bergantung pada partisipasi aktif masyarakat, yang menunjukkan adanya sinergi yang kuat antara pemerintah desa, lembaga non pemerintah, dan masyarakat.

Program Losida di Desa Kenteng menjadi contoh nyata bagaimana inovasi sederhana dapat memberikan dampak signifikan dalam pengelolaan sampah. Dengan pendekatan yang terpadu, melibatkan pemerintah, LSM dan masyarakat, program ini bukan hanya sekedar mengurangi timbunan sampah di TPS, tetapi juga mendorong praktik pertanian berkelanjutan dan meningkatkan kesadaran lingkungan di tingkat masyarakat.