Masjid Baitur Rohman Lumajang: Simbol Sejarah dan Arsitektur Islami Abad Tua
Masjid Baitur Rohman Lumajang: Simbol Sejarah dan Arsitektur Islami Abad Tua
Masjid Baitur Rohman, sebuah bangunan bersejarah di Dusun Munder, Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, menyimpan kisah panjang perjalanan dakwah Islam di wilayah tersebut. Didirikan pada tahun 1911 oleh Kiai Usman, masjid ini awalnya berupa surau sederhana. Renovasi besar-besaran pada tahun 1933 oleh Kiai Suhaemi memberikan bentuknya yang tetap bertahan hingga kini. Lebih dari sekadar tempat ibadah, Masjid Baitur Rohman merupakan saksi bisu perkembangan agama Islam di Lumajang, sekaligus perwujudan estetika dan filosofi arsitektur religi yang unik.
Keunikan arsitektur Masjid Baitur Rohman terletak pada detail-detail desainnya yang sarat makna simbolik. Sembilan kubahnya melambangkan jumlah Wali Songo, para penyebar agama Islam di Nusantara. Lima anak tangga menuju teras masjid merepresentasikan rukun Islam, sementara tiga pintu masuk, termasuk pintu imam yang berjumlah tiga, mengacu pada rukun iman. Jumlah jendela masjid, sebanyak dua puluh buah, melambangkan dua puluh sifat wajib Allah SWT. Bahkan, jumlah kusen pintu pun memiliki makna filosofis, yakni simbol kehidupan yang harus terbuka terhadap kekurangan dan kelebihan, mengajak umat untuk saling guyub rukun dan saling membantu.
Imam Masjid Baitur Rohman, Yoyon Sudarmanto, menjelaskan bahwa setiap elemen desain masjid, dari kubah hingga jendela, mengandung makna filosofis yang mendalam. Hal ini menunjukkan perencanaan dan pengerjaan masjid yang sangat terencana dan penuh pertimbangan. Lebih lanjut, Yoyon juga mengungkapkan proses pembangunan masjid yang unik. Para pekerja, menurut beliau, diwajibkan menjaga kesucian diri dari hadas besar maupun kecil selama proses pembangunan. Jika mengalami hadas kecil, mereka harus berwudhu terlebih dahulu sebelum melanjutkan pekerjaan. Hal ini menunjukkan kesungguhan dan kesalehan yang tinggi dalam proses pembangunan masjid bersejarah ini.
Kiai Usman dan Kiai Suhaemi, tokoh kunci di balik berdirinya dan renovasi Masjid Baitur Rohman, kini namanya diabadikan sebagai nama jalan di desa setempat, menunjukkan penghargaan masyarakat atas kontribusi besar mereka dalam menyebarkan agama Islam di Lumajang. Masjid Baitur Rohman bukan hanya sebuah bangunan tua, tetapi sebuah warisan budaya dan religi yang patut dijaga kelestariannya, menjadi simbol ketaatan dan semangat dakwah yang menginspirasi generasi mendatang.
Lebih dari sekadar bangunan tua, Masjid Baitur Rohman merupakan bukti nyata perpaduan harmonis antara nilai-nilai religius dan kearifan lokal. Arsitekturnya yang kaya akan simbolisme menunjukkan kekayaan budaya dan spiritual masyarakat Lumajang, serta peran penting masjid dalam kehidupan masyarakat setempat selama lebih dari satu abad.
Sebagai bangunan bersejarah yang memiliki nilai religi dan budaya yang tinggi, Masjid Baitur Rohman patut mendapat perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat luas. Pelestarian bangunan ini menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga warisan budaya dan sejarah Islam di Indonesia. Semoga Masjid Baitur Rohman tetap berdiri kokoh dan terus menjadi pusat ibadah dan pusat kegiatan keagamaan yang bermanfaat bagi masyarakat Lumajang.