Vibrasi Suara Indonesia (VISI): Gerakan Musisi Lintas Generasi Perjuangkan Hak Cipta yang Adil
Vibrasi Suara Indonesia (VISI): Gerakan Musisi Lintas Generasi Perjuangkan Hak Cipta yang Adil
Industri musik Indonesia tengah menghadapi tantangan serius terkait dengan implementasi Undang-Undang Hak Cipta. Kegelisahan ini mendorong terbentuknya Vibrasi Suara Indonesia (VISI), sebuah wadah yang menyatukan musisi dari berbagai generasi untuk memperjuangkan hak-hak mereka.
Lahirnya VISI: Respon terhadap Ketidakpastian Hukum
VISI lahir dari inisiatif Armand Maulana, yang kemudian didaulat menjadi Ketua Umum. Berawal dari keresahan pribadi mengenai carut marut royalti dan hak cipta, Armand Maulana kemudian menginisiasi pembentukan grup diskusi yang beranggotakan sejumlah musisi. Respon positif dari para musisi ini mendorong pembentukan VISI sebagai wadah yang lebih formal untuk menyuarakan aspirasi mereka.
"Jadi asal-mulanya saya posting feed soal yang lagi ramai tentang hak cipta. Ternyata si penyanyi ini telepon semua, katanya 'ternyata Kang Armand bersuara', semuanya telepon gitu ya. Ya boleh dong saya bersuara asal tidak SARA," ujar Armand Maulana.
VISI kini tengah mempersiapkan uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait dengan sejumlah pasal dalam UU Hak Cipta yang dianggap merugikan musisi. Uji materi ini bertujuan untuk mencari kejelasan dan kepastian hukum terkait dengan regulasi pembayaran royalti performing rights. Sidang perdana uji materi ini dijadwalkan pada 24 April 2025.
Dukungan Musisi Lintas Generasi
Gerakan VISI mendapatkan dukungan luas dari berbagai kalangan musisi, mulai dari nama-nama besar seperti Ariel NOAH, Judika, Bunga Citra Lestari, Titi DJ, Vina Panduwinata, Nino Kayam, David Bayu, hingga musisi indie yang populer di kalangan anak muda seperti Nadin Amizah, Feby Putri, Bernadya, Baskara Putra, Iga Massardi, dan Teddy Adhitya. Kehadiran musisi lintas generasi ini menunjukkan bahwa permasalahan hak cipta merupakan isu yang relevan bagi seluruh pelaku industri musik.
Nino Kayam mengungkapkan, "Justru banyak dari mereka yang membawakan karya sendiri di atas panggung, kenapa mereka bergantung itu karena mereka peduli," menunjukkan bahwa kepedulian terhadap isu hak cipta tidak hanya dirasakan oleh musisi yang membawakan lagu orang lain, tetapi juga oleh mereka yang menciptakan dan membawakan karya sendiri.
Fokus pada Perbaikan Sistem Royalti
Salah satu fokus utama VISI adalah perbaikan sistem royalti yang selama ini dianggap tidak transparan dan merugikan musisi. Ariel NOAH, selaku Wakil Ketua Umum VISI, menyoroti kinerja Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) dan Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) yang dianggap belum optimal.
"Paling besar kerugiannya ketidakpastian. Jadi kita semua penyanyi sudah terbiasa dengan peraturan pemerintah. Kalau sekarang ada direct licence dan ini gak resmi ya jadi bikin kita bingung. Yang mau kita dengar siapa, pemerintah atau yang lagi ramai ini. Kalau direct licence memang kan belum sah dan pajaknya gak tau riset dari mana tarifnya. Akhirnya kita ya hidup dalam ketidakpastian. Jadi kerugian paling utama ada kebingungan buat saya," papar Ariel NOAH.
Armand Maulana juga menyoroti laporan royalti di laman LMKN yang hanya tersedia hingga tahun 2020. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi dan akuntabilitas LMKN dalam mengelola royalti musisi.
Harapan pada Uji Materi di MK
VISI menaruh harapan besar pada uji materi di MK untuk dapat memberikan kepastian hukum terkait dengan UU Hak Cipta. Mereka berharap bahwa melalui uji materi ini, regulasi mengenai hak cipta dan royalti dapat diperbaiki sehingga lebih adil dan menguntungkan bagi seluruh musisi Indonesia. Dengan adanya kepastian hukum, diharapkan industri musik Indonesia dapat berkembang lebih baik dan memberikan kesejahteraan bagi para pelaku di dalamnya.
Daftar Musisi yang tergabung dalam VISI:
- Armand Maulana
- Ariel NOAH
- Judika
- Bunga Citra Lestari
- Titi DJ
- Vina Panduwinata
- Nino Kayam
- David Bayu
- Nadin Amizah
- Feby Putri
- Bernadya
- Baskara Putra
- Iga Massardi
- Teddy Adhitya
VISI menjadi simbol harapan bagi para musisi Indonesia untuk memperjuangkan hak-hak mereka dan menciptakan industri musik yang lebih adil dan transparan.