Kementan Optimalkan Produktivitas Padi Jateng: Sukoharjo Jadi Model Panen Empat Kali Setahun
Kementan Optimalkan Produktivitas Padi Jateng: Sukoharjo Jadi Model Panen Empat Kali Setahun
Semarang, Jawa Tengah - Kementerian Pertanian (Kementan) tengah berupaya meningkatkan produktivitas lahan pertanian di Jawa Tengah (Jateng) dengan target ambisius: panen padi empat kali dalam setahun. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono secara khusus menyoroti Kabupaten Sukoharjo sebagai model ideal yang telah berhasil menerapkan sistem panen padi setiap tiga bulan sekali.
Upaya ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan. Meskipun Jateng memiliki lahan pertanian yang lebih sempit dibandingkan Jawa Barat dan Jawa Timur, Kementan melihat potensi besar dalam peningkatan produktivitas melalui intensifikasi pertanian dan penerapan teknologi.
Wamentan Sudaryono menyampaikan optimismenya saat berkunjung ke Semarang, Kamis (20/3/2025). "Jawa Tengah ini contoh industri perpadian yang baik. Walaupun luas lahan sawah kita tidak sebesar Jawa Timur dan Jawa Barat, kita punya potensi untuk meningkatkan frekuensi panen," ujarnya.
Fokus utama adalah bagaimana memaksimalkan hasil panen dari lahan yang ada. Wamentan menekankan perlunya mempercepat siklus tanam setelah panen, sehingga petani dapat melakukan penanaman kembali secepat mungkin. "Kita ingin bagaimana caranya petani itu setelah panen bisa langsung tanam lagi. Sehingga dalam setahun bisa panen empat kali," jelasnya.
Sukoharjo: Percontohan Panen Empat Kali Setahun
Kabupaten Sukoharjo menjadi sorotan karena keberhasilannya dalam menerapkan sistem panen empat kali setahun. Model ini diharapkan dapat direplikasi di daerah lain di Jawa Tengah.
"Di Sukoharjo itu ada percontohan satu tahun bisa panen empat kali. Ini yang ingin kita dorong agar minimal frekuensi panen di daerah lain juga meningkat, dari satu kali menjadi dua kali, dua kali menjadi tiga kali, dan seterusnya," kata Sudaryono.
Dukungan Pemerintah Pusat untuk Irigasi
Guna mendukung target peningkatan produktivitas, Kementan berjanji akan mengalokasikan dana bantuan untuk perbaikan saluran irigasi di 17 kabupaten di Jawa Tengah. Wamentan menyadari pentingnya irigasi yang baik untuk memastikan ketersediaan air yang cukup bagi tanaman padi.
"Persoalan irigasi ini memang sudah lama tidak mendapat perhatian khusus. Namun, kami berkomitmen untuk memperbaiki sistem irigasi secara bertahap. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Jawa Tengah," ungkapnya.
Wamentan tidak dapat menjanjikan pemenuhan seluruh usulan dana sebesar Rp 53 miliar untuk irigasi, namun ia memastikan bahwa penyaluran dana akan dilakukan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.
Bulog Diminta Serap Gabah Petani dengan Harga Layak
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menekankan pentingnya perlindungan harga gabah petani. Ia meminta Perum Bulog untuk menyerap gabah petani dengan harga minimal Rp 6.500 per kilogram.
"Saya minta para bupati untuk mengontrol agar gabah petani terserap dengan baik dengan harga yang layak. Target kita adalah menyerap minimal 2 juta ton gabah," tegas Zulhas.
Untuk mencapai target tersebut, Zulhas meminta kerjasama dari pemerintah daerah hingga tingkat desa.
Kesimpulan
Kementan menaruh harapan besar pada Jawa Tengah untuk meningkatkan produksi padi nasional. Dengan fokus pada intensifikasi pertanian, perbaikan irigasi, dan perlindungan harga gabah petani, diharapkan target panen empat kali setahun dapat tercapai dan berkontribusi pada swasembada pangan yang berkelanjutan.
Poin Penting:
- Target panen padi empat kali setahun di Jawa Tengah.
- Sukoharjo menjadi model percontohan.
- Dukungan Kementan untuk perbaikan irigasi.
- Bulog diminta menyerap gabah petani dengan harga minimal Rp 6.500 per kilogram.