Berkah Mudik: Kisah Khamid, Porter Stasiun Senen, Demi Kebahagiaan Lebaran Sang Anak
Berkah Mudik Lebaran: Perjuangan Seorang Porter di Stasiun Senen
Momen mudik Lebaran selalu membawa cerita tersendiri bagi banyak orang. Di tengah hiruk pikuk Stasiun Pasar Senen, terdapat sosok Khamid, seorang porter berusia 53 tahun, yang tengah berjuang mencari rezeki tambahan untuk membahagiakan keluarganya di hari raya Idul Fitri. Baginya, ramainya stasiun saat arus mudik dan balik Lebaran 2025 menjadi harapan untuk meningkatkan penghasilannya.
Khamid, yang telah 26 tahun menjadi porter di Stasiun Pasar Senen, mengungkapkan bahwa penghasilan tambahan yang diperolehnya selama momen Lebaran akan digunakan untuk membeli baju Lebaran bagi anaknya. "Ya, namanya juga kerja, pasti ada suka dukanya. Dukanya ya banyak, tapi yang paling ditunggu-tunggu adalah tambahan penghasilan untuk keluarga, terutama buat beli baju Lebaran anak. Kalau hari-hari biasa, cukup buat makan sehari-hari saja," ujarnya saat ditemui di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Minggu (23/3/2025).
Tradisi Pulang Kampung yang Tak Tergantikan
Khamid berencana untuk pulang ke kampung halamannya di Kebumen saat hari Lebaran tiba. Meskipun banyak porter lain yang memilih untuk tetap bekerja di stasiun, Khamid bersikeras untuk pulang, meskipun hanya sehari. Ia memperkirakan hanya sekitar 25% porter di Stasiun Senen yang mudik Lebaran. Baginya, momen berkumpul bersama keluarga di hari raya adalah sesuatu yang tak ternilai harganya.
"Kalau saya pasti pulang, walau sehari di kampung tetap mengikuti Lebaran di rumah, kalau nggak kasihan anak," katanya dengan nada haru. Ia menceritakan pengalaman pahit ketika tidak bisa pulang kampung saat Lebaran. Saat itu, anaknya terus menanyakan keberadaannya dan merasa sedih karena tidak bisa merayakan Lebaran bersama ayahnya. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga baginya, sehingga ia selalu berusaha untuk pulang kampung setiap tahun, meskipun hanya sebentar.
Suka Duka Menjadi Porter di Stasiun Senen
Selama 26 tahun menjadi porter, Khamid telah merasakan berbagai macam pengalaman, mulai dari suka hingga duka. Ia bercerita tentang penumpang yang memberikan upah dengan ikhlas, namun ada juga yang hanya mengucapkan terima kasih tanpa memberikan apa pun. Meskipun demikian, Khamid tetap bersyukur dan menerima setiap rezeki yang diterimanya dengan lapang dada.
"Oh ada aja, ada yang cuma terima kasih ada, ya nggak apa-apa mungkin itu belum rezeki kita. Ada yang ngasih lebih, contohnya kalau yang ngasih sedikit kita terima lah, mungkin rezekinya segitu, nanti kan ada balasannya yang gede. Kalau sekarang bisa 10 kali (mengangkut barang)," imbuhnya.
Khamid berharap agar di momen mudik Lebaran kali ini, ia bisa mendapatkan penghasilan yang lebih banyak lagi. Ia juga berharap agar para penumpang dapat memberikan upah yang sesuai dengan jerih payahnya, sehingga ia bisa membeli baju Lebaran yang bagus untuk anaknya dan merayakan Lebaran dengan penuh kebahagiaan bersama keluarganya di kampung halaman.