Lonjakan Permintaan Kerupuk Rambak Tulungagung Sambut Lebaran, Produsen Optimis Meski Daya Beli Diprediksi Turun
Permintaan Kerupuk Rambak Tulungagung Melonjak Jelang Idul Fitri
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, industri kerupuk rambak di Tulungagung menunjukkan geliat positif. Sejumlah produsen melaporkan peningkatan permintaan yang signifikan, menandakan tradisi Lebaran dengan hidangan khas terus dilestarikan. Namun, di balik optimisme ini, tersembunyi kekhawatiran mengenai potensi penurunan daya beli masyarakat.
Waluyo, pemilik Intan Jaya, salah satu produsen kerupuk rambak terkemuka di Tulungagung, mengungkapkan bahwa permintaan kerupuk rambak diperkirakan melonjak hingga 200% dibandingkan hari biasa. Lonjakan ini lazim terjadi menjelang Lebaran, di mana kerupuk rambak menjadi pelengkap wajib di meja makan. "Biasanya, puncak permintaan terjadi sekitar H-5 Lebaran. Saat ini, permintaan sudah meningkat, namun belum setinggi yang kami harapkan," ujarnya.
Intan Jaya sendiri saat ini memproduksi sekitar 1 kuintal kerupuk rambak setiap hari, yang terbuat dari kulit sapi dan kerbau pilihan. Produksi ini difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal Tulungagung. "Untuk pesanan dari luar kota, seperti Surabaya dan Jabodetabek, sudah kami penuhi sejak H-20 Lebaran," jelas Waluyo.
Tantangan Daya Beli di Tengah Peningkatan Permintaan
Meskipun permintaan meningkat, Waluyo memprediksi bahwa daya beli masyarakat secara keseluruhan akan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor ekonomi menjadi penyebab utama kekhawatiran ini. "Tahun lalu, peningkatan permintaan bisa mencapai 300%. Kami khawatir tahun ini tidak akan setinggi itu," ungkapnya.
Indikasi penurunan daya beli ini terlihat dari stabilitas pasokan bahan baku kulit sapi dan kerbau dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi. "Pasokan lancar dan tidak ada kendala. Ini sebenarnya pertanda kurang baik, karena biasanya kalau permintaan tinggi, bahan baku juga sulit didapatkan," imbuh Waluyo.
Strategi Produsen Jaga Harga dan Kualitas
Menyadari kondisi ekonomi yang menantang, Waluyo mengambil langkah strategis untuk menjaga daya beli konsumen. Ia memutuskan untuk tidak menaikkan harga jual produknya. Kerupuk rambak kerbau siap konsumsi dijual seharga Rp 185 ribu per kilogram, sedangkan kerupuk rambak sapi dijual Rp 115 ribu per kilogram. "Untuk kerupuk rambak mentah, harganya Rp 5.000 lebih murah dibandingkan yang sudah matang," jelasnya.
Selain menjaga harga, Waluyo juga berkomitmen untuk mempertahankan kualitas produknya. Ia menekankan bahwa kerupuk rambak Tulungagung terkenal karena proses pengolahannya yang alami. "Konsumen banyak yang bilang kalau rambak sini itu enak. Kami memang menjaga betul kualitasnya. Penjemuran dilakukan secara alami menggunakan sinar matahari," kata Waluyo.
Proses pengeringan kulit rambak membutuhkan waktu sekitar 10 hari pada cuaca cerah. Namun, jika cuaca hujan, proses pengeringan bisa memakan waktu lebih dari 15 hari. "Kami juga menjaga kualitas bumbu dan minyak yang digunakan, sehingga hasilnya lebih baik," pungkas Waluyo.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan dan Produksi:
- Tradisi Lebaran dan konsumsi kerupuk rambak
- Kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat
- Stabilitas pasokan bahan baku
- Kualitas produk dan proses pengolahan
- Cuaca dan proses pengeringan
Dampak Potensial:
- Peningkatan pendapatan produsen (meskipun mungkin tidak setinggi tahun lalu)
- Pemenuhan kebutuhan konsumen akan hidangan khas Lebaran
- Stimulasi ekonomi lokal Tulungagung
- Pentingnya menjaga kualitas produk di tengah persaingan pasar