Pertumbuhan Kredit Perbankan Tembus Rp7.782 Triliun di Januari 2025: Kinerja Positif di Tengah Ketidakpastian Global

Pertumbuhan Kredit Perbankan Tembus Rp7.782 Triliun di Januari 2025: Kinerja Positif di Tengah Ketidakpastian Global

Industri perbankan nasional mencatatkan kinerja positif di awal tahun 2025. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan penyaluran kredit perbankan mencapai angka yang signifikan, yaitu Rp7.782 triliun pada Januari 2025. Capaian ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 10,27 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menunjukkan pertumbuhan dua digit yang berkelanjutan setelah bulan Desember mencatat pertumbuhan 10,39 persen. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan hal ini dalam konferensi pers hasil rapat Dewan Komisioner OJK, Selasa (4/3/2025).

Pertumbuhan kredit tersebut didorong oleh beberapa sektor. Kredit investasi menunjukan pertumbuhan tertinggi, mencapai 13,22 persen yoy. Sektor kredit konsumsi juga menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan sebesar 10,37 persen yoy. Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh sebesar 8,40 persen yoy. Dari sisi kepemilikan bank, Bank BUMN menjadi kontributor utama pertumbuhan kredit dengan angka mencapai 10,98 persen yoy. Lebih rinci lagi, kredit korporasi menunjukan pertumbuhan yang signifikan, yaitu 15,81 persen yoy, sementara kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tumbuh sebesar 2,88 persen yoy.

Selain pertumbuhan kredit, OJK juga melaporkan perkembangan positif pada Dana Pihak Ketiga (DPK). DPK tercatat tumbuh sebesar 5,51 persen yoy menjadi Rp8.879,2 triliun. Rincian pertumbuhan DPK meliputi giro (6,86 persen yoy), tabungan (6,59 persen yoy), dan deposito (3,49 persen yoy). Kondisi likuiditas industri perbankan juga tetap terjaga dengan baik. Rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat sebesar 114,86 persen dan Rasio Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 26,03 persen, melampaui ambang batas minimum yang ditetapkan.

Lebih lanjut, rasio Likuiditas Coverage Ratio (LCR) berada pada level 211,20 persen. Kualitas kredit juga tetap terjaga, ditunjukan oleh rasio Non-Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,18 persen dan NPL net sebesar 0,79 persen. Angka ini menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan posisi Januari 2024, dimana NPL gross sebesar 2,35 persen. Rasio Loan at Risk (LaR) juga menunjukkan tren penurunan menjadi 9,72 persen, lebih rendah dibandingkan level sebelum pandemi (9,93 persen pada Desember 2019). Secara keseluruhan, tingkat profitabilitas bank (ROA) mencapai 2,34 persen, menunjukkan kinerja industri perbankan yang tetap resilien dan stabil. Ketahanan perbankan juga didukung oleh rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang tinggi, yaitu 27,05 persen, yang berfungsi sebagai bantalan mitigasi risiko dalam menghadapi ketidakpastian global.

Kesimpulannya, meskipun di tengah kondisi global yang masih penuh tantangan, industri perbankan Indonesia menunjukkan kinerja yang solid dan menjanjikan di awal tahun 2025. Pertumbuhan kredit yang signifikan, diiringi dengan likuiditas yang memadai dan kualitas aset yang terjaga, menunjukkan sektor perbankan nasional mampu bertahan dan berkontribusi positif terhadap perekonomian negara.