Perubahan Iklim Ancam Frekuensi Banjir Jabodetabek: BMKG Ingatkan Potensi Bencana Tahunan
BMKG Waspadai Potensi Banjir Tahunan di Jabodetabek Akibat Perubahan Iklim
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan kekhawatiran serius mengenai potensi peningkatan frekuensi banjir besar di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Bencana yang sebelumnya terjadi dalam siklus lima tahunan, kini terancam menjadi kejadian tahunan akibat dampak perubahan iklim.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa fenomena perubahan iklim memicu peningkatan curah hujan ekstrem yang menjadi penyebab utama banjir. Dalam Webinar Refleksi Banjir JABODETABEK: Strategi Tata Ruang dan Mitigasi Cuaca Ekstrem, Dwikorita menekankan bahwa kekeringan dan banjir adalah dua sisi mata uang dari perubahan iklim, dan keduanya akan semakin parah serta berulang setiap tahun.
"Jika kita tidak mampu mengelola lingkungan dengan baik, banjir lima tahunan itu bisa menjadi tiga tahunan, bahkan mungkin setiap tahun," ujar Dwikorita, seraya menambahkan bahwa banjir dengan dampak separah banjir lima tahunan berpotensi menjadi kejadian rutin jika langkah-langkah mitigasi yang tepat tidak segera diambil.
Hujan Ekstrem Semakin Sering Terjadi
Data BMKG menunjukkan bahwa curah hujan ekstrem, yang didefinisikan sebagai curah hujan melebihi 150 ml, semakin sering terjadi. Intensitas, frekuensi, dan durasi curah hujan sangat erat kaitannya dengan suhu permukaan. Peningkatan suhu udara mempercepat siklus hidrologi, yang pada gilirannya meningkatkan risiko terjadinya cuaca ekstrem.
"Data menunjukkan adanya korelasi antara peningkatan konsentrasi gas rumah kaca dengan peningkatan suhu udara dan peningkatan kejadian ekstrem," jelas Dwikorita. Laporan ilmiah juga mengindikasikan bahwa peningkatan suhu udara memacu siklus hidrologi menjadi lebih cepat, yang berdampak pada peningkatan kejadian ekstrem, baik ekstrem basah (banjir) maupun ekstrem kering (kekeringan).
Perlunya Mitigasi dan Adaptasi
Kondisi ini menuntut adanya tindakan mitigasi dan adaptasi yang komprehensif dari berbagai pihak. Mitigasi dapat dilakukan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca, sementara adaptasi meliputi pengelolaan tata ruang yang lebih baik, pembangunan infrastruktur yang tahan banjir, dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang risiko bencana.
Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil:
- Pengelolaan Tata Ruang: Menata kembali ruang kota dan wilayah untuk mengurangi risiko banjir, termasuk memperbanyak ruang terbuka hijau dan memperketat izin pembangunan di daerah resapan air.
- Pembangunan Infrastruktur: Membangun dan memelihara infrastruktur pengendalian banjir seperti waduk, kanal, dan drainase.
- Peningkatan Kesadaran Masyarakat: Mengedukasi masyarakat tentang risiko banjir dan cara-cara menghadapinya.
- Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca: Mengurangi penggunaan energi fosil dan beralih ke energi terbarukan.
Dengan tindakan yang tepat, dampak perubahan iklim terhadap frekuensi banjir di Jabodetabek dapat diminimalisir, dan risiko bencana tahunan dapat dihindari.