Strategi Jitu Hadapi Bahrain: Pengamat Minta Kluivert Prioritaskan Pertahanan Solid

Pertandingan krusial antara Timnas Indonesia melawan Bahrain dalam putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia semakin mendekat. Laga yang akan dihelat di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada Selasa (25/3/2025) pukul 20.45 WIB ini menjadi sorotan tajam para pengamat sepak bola.

Gita Suwondo, seorang pengamat sepak bola ternama, memberikan pandangannya terkait strategi yang sebaiknya diterapkan oleh pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert. Gita mengingatkan agar Kluivert tidak terpaku pada gaya permainan ofensif yang berpotensi menjadi bumerang bagi Tim Garuda.

Belajar dari Kekalahan Bahrain atas Jepang

Gita Suwondo berkaca pada pertandingan terakhir Bahrain yang menelan kekalahan 0-2 dari Jepang. Meskipun Jepang berhasil memenangkan pertandingan, kemenangan tersebut tidak diraih dengan mudah. Jepang harus berjuang keras untuk menembus pertahanan solid Bahrain yang dikomandoi oleh pelatih Dragan Talajic.

Gol-gol Jepang baru tercipta di babak kedua, salah satunya melalui skema serangan apik dan sepakan sudut sempit dari Takefusa Kubo. Gita Suwondo meyakini bahwa Indonesia tidak akan mendapatkan hasil yang sama jika memaksakan permainan menyerang seperti Jepang.

"Kalau Patrick Kluivert masih ngotot dengan pola ball possession, high defense, dan attacking 4-3-3, kita berpotensi kalah melalui serangan balik Bahrain," ujar Gita Suwondo.

Pertahanan Solid dan Transisi Cepat Kunci Sukses

Gita Suwondo menyarankan agar Timnas Indonesia kembali menerapkan gaya permainan yang sudah dikuasai dengan baik oleh para pemain, yaitu permainan bertahan dengan mengusung tiga bek tengah dan transisi cepat yang mengandalkan lini tengah. Ia menekankan pentingnya pemilihan pemain yang tepat untuk menjalankan strategi ini.

"Tiga bek tengah itu harus diisi oleh Rizky Ridho, Jay Idzes, dan Justin Hubner yang sudah memiliki pemahaman yang baik satu sama lain," kata Gita Suwondo.

Gita Suwondo memberikan catatan khusus terkait performa Mees Hilgers. Meskipun mengakui kualitas Hilgers, ia menilai bahwa pemain tersebut cenderung kurang disiplin dalam bertahan dan terlalu agresif dalam melakukan high defense, terutama saat tim dalam posisi tertinggal.

Tekanan Suporter Bukan Jaminan

Gita Suwondo juga menepis anggapan bahwa Bahrain akan tertekan dengan dukungan masif dari suporter Indonesia di SUGBK. Ia merujuk pada statistik yang menunjukkan bahwa Bahrain justru seringkali tampil lebih baik saat bermain di kandang lawan.

Sebagai contoh, Bahrain berhasil meraih kemenangan saat bertandang ke markas Australia dan menahan imbang Arab Saudi di kandang mereka.

"Jangan percaya kalau Bahrain takut dengan tekanan suporter di GBK. Mereka tidak takut hal-hal seperti itu. Mereka bahkan menang di Australia dengan gaya guling-gulingan," ujar Gita Suwondo.

Ia juga menambahkan bahwa rekor tandang Bahrain lebih baik dibandingkan rekor kandang mereka.

Berikut rekor tandang dan kandang Bahrain:

  • Tandang: 1 menang, 1 seri, 1 kalah (4 poin)
  • Kandang: 2 seri, 2 kalah (2 poin)

Imbauan untuk Kluivert

Menjelang pertandingan melawan Bahrain, Gita Suwondo berharap agar Patrick Kluivert dapat memilih strategi yang paling sesuai dengan potensi pemain yang dimilikinya. Ia menyarankan agar Kluivert tidak melakukan improvisasi strategi yang berisiko, demi menjaga peluang Indonesia untuk lolos ke Piala Dunia 2026.

"Dari awal, Patrick Kluivert harus kembali ke formasi tiga bek tengah. Jangan mengubah formasi di tengah pertandingan, seperti saat kita sudah tertinggal tiga gol dengan menugaskan Verdonk sebagai bek tengah ketiga. Hal itu justru menghilangkan potensi Verdonk dalam menyerang sebagai bek kiri," pungkasnya.

Dengan persiapan yang matang dan strategi yang tepat, diharapkan Timnas Indonesia mampu meraih hasil positif dalam pertandingan melawan Bahrain dan menjaga asa untuk tampil di Piala Dunia 2026.