Guru Muda NTT Gugur di Yahukimo: Tragedi Kekerasan di Tanah Papua
Guru Muda NTT Gugur di Yahukimo: Tragedi Kekerasan di Tanah Papua
Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan dan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) atas meninggalnya Rosalina Barek Sogen (30), seorang guru muda yang bertugas di Yahukimo, Papua Pegunungan. Rosalina menjadi korban serangan brutal yang diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata. Peristiwa tragis ini menambah daftar panjang kekerasan yang terjadi di wilayah Papua, khususnya yang menyasar para pekerja kemanusiaan dan tenaga pendidik.
Kronologi Kejadian Mengerikan
Menurut keterangan keluarga, insiden bermula pada Jumat (21/3/2025) sore, ketika Rosalina dan beberapa guru lainnya berada di rumah dinas guru. Mereka melihat beberapa orang tak dikenal dengan membawa senjata tajam melakukan aksi meresahkan di depan rumah dinas. Karena penasaran dan ingin mengetahui apa yang terjadi, Rosalina membuka pintu. Tanpa ampun, para pelaku langsung menyerangnya dengan senjata tajam, menyebabkan luka parah di leher, tangan, rusuk, dan kaki.
Serangan tidak berhenti pada Rosalina. Kelompok tersebut kemudian mengejar guru-guru lain yang berada di lokasi, menyebabkan beberapa di antara mereka mengalami luka-luka. Dalam aksi brutalnya, para pelaku juga membakar fasilitas publik, yaitu Pondok Bersalin Desa (Polindes). Kebakaran ini justru memberikan kesempatan bagi para guru yang selamat untuk melarikan diri dan mencari pertolongan.
Evakuasi dan Identifikasi Korban
Setelah menerima laporan, aparat keamanan segera melakukan evakuasi terhadap para korban. Jenazah Rosalina berhasil dievakuasi menggunakan helikopter pada Minggu (23/3/2025). Satgas Koops TNI Habema Kogabwilhan III melaporkan bahwa serangan ini mengakibatkan satu guru meninggal dunia dan enam lainnya mengalami luka-luka. Selain Rosalina, enam guru lainnya juga menjadi korban dalam insiden ini. Tiga di antaranya mengalami luka berat dan tiga lainnya mengalami luka ringan.
Berikut daftar korban luka:
- Luka Berat: Vidi, Cosmas, Tari
- Luka Ringan: Vanti, Paskalia, Irmawati
Duka Mendalam di Flores Timur
Kabar kematian Rosalina membawa duka mendalam bagi keluarga dan kerabat di Desa Lewotala, Flores Timur. Ibunda Rosalina, Valentina Weli Hewen, tidak kuasa menahan kesedihan. Di mata keluarga, Rosalina dikenal sebagai sosok yang humoris, memiliki jiwa sosial tinggi, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Ia seringkali menggunakan uang pribadinya untuk membantu anak-anak di sekitarnya dan memberikan bimbingan belajar kepada keponakannya.
Reaksi Pemerintah dan Tindak Lanjut
Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan Pemerintah Provinsi NTT memberikan perhatian serius terhadap kejadian ini. Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, menyatakan bahwa Pemerintah Yahukimo akan menanggung seluruh biaya rumah sakit dan pemulangan jenazah Rosalina ke Flores Timur. Pemerintah juga berupaya untuk memastikan bahwa seluruh hak almarhumah terpenuhi. Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, juga menyampaikan keprihatinannya dan berjanji untuk meningkatkan keamanan warga NTT di Papua Pegunungan.
Jenazah Rosalina diperkirakan tiba di Kupang pada Rabu (26/3/2025) dan selanjutnya akan dibawa ke Flores Timur melalui jalur darat. Pemakaman akan dilakukan secara kedinasan dengan dipimpin oleh Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Flores Timur. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Flores Timur juga akan hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhumah.
Kondisi Keamanan di Papua
Insiden ini kembali menyoroti masalah keamanan di Papua, khususnya di wilayah-wilayah terpencil. Para guru dan tenaga kesehatan yang bertugas di daerah tersebut seringkali menjadi sasaran kekerasan oleh kelompok-kelompok bersenjata. Pemerintah diharapkan dapat meningkatkan keamanan di wilayah Papua dan memberikan perlindungan yang memadai bagi para pekerja kemanusiaan dan tenaga pendidik yang bertugas di sana. Upaya dialog dan pendekatan pembangunan yang komprehensif juga perlu terus diupayakan untuk menciptakan perdamaian dan kesejahteraan di tanah Papua.