Euforia Nobar Timnas Indonesia di Semarang Diwarnai Aksi Penolakan UU TNI

Semarang Bergema: Dukungan Timnas Berpadu dengan Kritik UU TNI

Semarang, Jawa Tengah – Semangat sepak bola membara di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Selasa malam (25/3/2025) saat puluhan warga Semarang tumpah ruah untuk menyaksikan pertandingan krusial antara Timnas Indonesia melawan Bahrain dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026. Namun, suasana nobar kali ini terasa berbeda dengan kehadiran elemen protes yang kuat terhadap Undang-Undang TNI.

Di sekeliling layar lebar yang menampilkan pertandingan, terbentang spanduk dan poster-poster bernada penolakan terhadap UU TNI. Slogan-slogan seperti "Supremasi Sipil Bukan Lelucon," "Cabut UU TNI," dan "Sepak Bola Alat Perjuangan Tan Malaka" menjadi latar belakang yang kontras dengan euforia dukungan terhadap Timnas Garuda.

Laras (22), seorang warga yang baru dua minggu tinggal di Semarang, mengaku terkesan dengan aksi ini. "Baru pertama kali ikut nobar di Semarang, dan langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Keren, luar biasa bisa memperjuangkan hak sebagai rakyat dengan cara seperti ini," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan keresahannya terhadap pengesahan UU TNI. "Yang paling saya takutkan adalah kembalinya dwifungsi militer. Apakah kita akan kembali ke era Orde Baru?" ungkapnya.

Aliansi Masyarakat Sipil Semarang: Nobar Sebagai Wadah Aspirasi

Mario (25), perwakilan Aliansi Masyarakat Sipil Semarang, menjelaskan bahwa aksi nobar ini merupakan bagian dari upaya menyuarakan keresahan masyarakat terhadap UU TNI. "Kami berupaya merebut ruang publik sebagai tempat bersama, dan menggunakannya sebagai medium untuk menyuarakan kondisi hari ini, seperti isu UU TNI," jelasnya.

Aliansi Masyarakat Sipil Semarang bahkan telah melakukan aksi bermalam di depan Kantor Gubernur selama dua malam berturut-turut sebagai simbol perlawanan terhadap kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada masyarakat. Aksi ini diisi dengan berbagai kegiatan seperti berkemah, street football, lomba lari, dapur umum, dan nobar.

"Aktivasi ini bersifat berkepanjangan. Kami saling berjejaring untuk mengawal kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat. Kami mencoba untuk saling menguatkan koordinasi," lanjut Mario.

Ia berharap pemerintah dapat mendengar aspirasi mereka. "Tidak ada target khusus, tapi kami akan bertahan selama mungkin sampai UU TNI dibatalkan, dan pembahasan RUU yang tidak berpihak kepada rakyat dihentikan," tegasnya.

Mario berpendapat bahwa UU TNI cacat secara formil karena dibahas secara tertutup. Ia juga mengingatkan tentang ingatan kelam terkait dwifungsi ABRI di era Orde Baru.

Simbol Perlawanan

Kombinasi antara dukungan terhadap Timnas Indonesia dan penolakan terhadap UU TNI dalam satu acara nobar menjadi simbol perlawanan yang unik dan menarik perhatian. Aksi ini menunjukkan bahwa masyarakat sipil tidak hanya peduli terhadap sepak bola, tetapi juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap isu-isu sosial dan politik yang memengaruhi kehidupan mereka.

Nobar ini menjadi bukti bahwa ruang publik dapat digunakan sebagai wadah untuk menyuarakan aspirasi dan memperjuangkan hak-hak masyarakat sipil. Aliansi Masyarakat Sipil Semarang berharap aksi mereka dapat membuka mata pemerintah dan mendorong pembatalan UU TNI yang dianggap merugikan.

Kegiatan ini memberikan pesan yang kuat bahwa masyarakat sipil akan terus mengawasi dan mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Semangat perlawanan ini diharapkan dapat menginspirasi masyarakat lain untuk turut serta dalam memperjuangkan keadilan dan demokrasi.