Indonesia Masuk Jajaran Negara Penghasil Lulusan STEM Terbanyak di Dunia: Data Terbaru Ungkap Peta Kekuatan Pendidikan Sains dan Teknologi Global

Indonesia Masuk Jajaran Negara Penghasil Lulusan STEM Terbanyak di Dunia: Data Terbaru Ungkap Peta Kekuatan Pendidikan Sains dan Teknologi Global

Lanskap pendidikan global mengalami pergeseran signifikan, terutama dalam bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM). Data terbaru menunjukkan bahwa Asia, khususnya China dan India, mendominasi produksi lulusan STEM, namun negara-negara lain termasuk Indonesia juga menunjukkan performa yang signifikan.

Dominasi Asia dan Munculnya Kekuatan Baru

China memimpin dengan 3,57 juta lulusan STEM per tahun, mencakup lebih dari 40% dari total lulusan universitas di negara tersebut. Hal ini menjadikan China sebagai kekuatan utama dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI), bioteknologi, dan energi terbarukan. India menyusul dengan 2,55 juta lulusan STEM, yang sebagian besar berkontribusi pada pertumbuhan pesat industri teknologi informasi (TI) di negara tersebut. Bahkan, India diproyeksikan melampaui China dalam jumlah lulusan STEM pada tahun 2030, yang berpotensi mengubah dinamika tenaga kerja teknologi global.

Amerika Serikat (AS), meskipun berada di urutan ketiga dengan sekitar 820.000 lulusan STEM per tahun (sekitar 20% dari total lulusan), tetap menjadi magnet bagi talenta STEM internasional. Banyak insinyur dan ilmuwan terbaik di AS berasal dari luar negeri, menunjukkan daya tarik negara tersebut sebagai pusat inovasi dan penelitian.

Pergeseran Kiblat STEM

Abad ke-20 menyaksikan AS dan Eropa (terutama Rusia, Jerman, Inggris, dan Prancis) sebagai pusat pendidikan sains dan teknologi global. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, negara-negara Asia seperti China, India, Korea Selatan, dan Jepang telah secara agresif memperluas program pendidikan STEM mereka. Perubahan ini didorong oleh investasi besar-besaran dalam infrastruktur pendidikan, peningkatan kualitas pengajaran, dan fokus pada penelitian dan pengembangan.

Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada tahun 2016 mengidentifikasi China, India, AS, Rusia, Iran, Indonesia, dan Jepang sebagai tujuh negara penghasil lulusan STEM teratas. Namun, data terbaru dari The Center for Security and Emerging Technology (CSET) menunjukkan bahwa Brasil dan Meksiko telah melampaui Iran dan Jepang dalam jumlah lulusan STEM.

Posisi Strategis Indonesia

Indonesia menempati posisi penting dalam lanskap global lulusan STEM. Menurut data CSET tahun 2020, Indonesia menghasilkan sekitar 300.000 lulusan STEM, yang merupakan 20% dari total lulusan sarjana di negara tersebut. Hal ini menempatkan Indonesia di urutan kelima, sejajar dengan negara-negara BRICS lainnya seperti Brasil, Rusia, India, dan China.

Berikut adalah peringkat 11 negara teratas penghasil lulusan STEM terbanyak berdasarkan data CSET tahun 2020:

  • China - 3,57 juta (40% dari total lulusan sarjana)
  • India - 2,55 juta (30% dari total lulusan sarjana)
  • AS - 820 ribu (20% dari total lulusan sarjana)
  • Rusia - 520 ribu (37% dari total lulusan sarjana)
  • Indonesia - 300 ribu (20% dari total lulusan sarjana)
  • Brasil - 238 ribu (17% dari total lulusan sarjana)
  • Meksiko - 221 ribu (26% dari total lulusan sarjana)
  • Prancis - 220 ribu (26% dari total lulusan sarjana)
  • Jerman - 216 ribu (36% dari total lulusan sarjana)
  • Iran - 211 ribu (33% dari total lulusan sarjana)
  • Jepang - 192 ribu (19% dari total lulusan sarjana)

Keberadaan Indonesia dalam daftar ini menunjukkan potensi besar negara ini dalam mengembangkan sektor teknologi dan inovasi. Dengan terus meningkatkan kualitas pendidikan STEM dan mendorong partisipasi siswa dalam bidang-bidang ini, Indonesia dapat memainkan peran yang lebih signifikan dalam ekonomi global berbasis pengetahuan.