Pemerintah Optimalkan Ekspor dan Deregulasi untuk Stabilkan Rupiah

Pemerintah Optimalkan Ekspor dan Deregulasi untuk Stabilkan Rupiah

Jakarta - Pemerintah Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah fluktuasi pasar global. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan bahwa strategi utama yang diambil adalah dengan menggenjot kinerja ekspor dan melakukan deregulasi untuk mempermudah arus barang dan modal.

"Ekspor harus terus berjalan sebagai sumber devisa utama negara. Selain itu, kami juga melakukan deregulasi sesuai arahan Presiden, dengan mempermudah perizinan untuk memperlancar kegiatan impor dan ekspor," ujar Menko Airlangga seusai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (26/3/2025).

Kondisi Pasar Rupiah Terkini

Pada penutupan perdagangan pasar spot Rabu, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS berada di level Rp 16.588 per Dolar AS, menunjukkan penguatan sebesar 0,14 persen dibandingkan hari sebelumnya yang berada di Rp 16.612 per Dolar AS. Data dari Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat penguatan ke level Rp 16.588 per Dolar AS dari sebelumnya Rp 16.622 per Dolar AS.

Sebelumnya, pada Selasa (25/3/2025), Rupiah sempat menyentuh titik terlemahnya terhadap Dolar AS sejak krisis moneter tahun 1998. Fluktuasi ini menjadi perhatian utama pemerintah, namun Airlangga meyakinkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid.

Fundamental Ekonomi yang Kuat

Menko Airlangga menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini sangat kuat, didukung oleh beberapa faktor kunci:

  • Cadangan Devisa yang Cukup: Indonesia memiliki cadangan devisa yang memadai untuk menopang stabilitas nilai tukar.
  • Neraca Perdagangan Positif: Kinerja ekspor yang kuat menghasilkan surplus neraca perdagangan, menambah pasokan Dolar AS di pasar.
  • Devisa Hasil Ekspor (DHE) di Dalam Negeri: Pemerintah telah mengatur agar seluruh devisa hasil ekspor disimpan di dalam negeri, memperkuat posisi Rupiah.

"Rupiah memang berfluktuasi, namun secara fundamental kami melihatnya kuat. Kami juga melihat potensi penguatan dalam jangka menengah dan panjang," imbuh Airlangga.

Optimisme Pasar dan Kebijakan DHE

Airlangga juga menyoroti respons positif pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Ia menyebutkan, pasar telah menunjukkan rebound dan ekspektasi terhadap Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank Mandiri dan Bank BRI juga memberikan sentimen positif.

Kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas Rupiah. Dengan mewajibkan eksportir menyimpan devisa di dalam negeri, pemerintah berharap dapat mengurangi tekanan terhadap Rupiah dan memperkuat fundamental ekonomi secara keseluruhan.

"Dengan kebijakan DHE, kita tidak akan mudah terpojok di masa depan. Fundamental devisa hasil ekspor ini akan memperkuat posisi Rupiah," pungkas Airlangga.