Secercah Harapan di Balik Terali Besi: Ramadhan Budaya Obati Rindu Anak-anak LPKA Lombok Tengah
Ramadhan Budaya: Mengukir Senyum di Balik Terali Besi LPKA Lombok Tengah
Di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Lombok Tengah, semangat Ramadhan terasa berbeda. Di balik tembok tinggi dan aturan yang ketat, 43 anak laki-laki menanti secercah kebahagiaan. Sore itu, menjelang Lebaran, Komunitas Berbagi, Komunitas Hijrah, dan Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) hadir membawa senyum dan harapan melalui acara Ramadhan Budaya ke-4.
Lapangan LPKA disulap menjadi panggung sederhana. Anak-anak, mengenakan kaus bertuliskan "Man Jadda Wa Jada" (Siapa bersungguh-sungguh, maka akan berhasil) dan topeng tokoh-tokoh inspiratif, duduk rapi menanti pertunjukan. Suara merdu hadrah membuka acara, menyatukan hati dalam lantunan syair yang menyentuh.
Kisah di Balik Terali: Mimpi dan Kerinduan
RA (19), salah satu anak binaan, mengungkapkan tugasnya sehari-hari adalah menyiapkan logistik untuk teman-temannya. Meski baru 10 bulan menjalani hukuman 7 tahun, ia berusaha menjalani dengan tegar.
AG (19), anak binaan asal Sumbawa, terpesona dengan pertunjukan wayang botol. Ia memberanikan diri bertanya kepada dalang, apakah wayang bisa mewakili perasaannya. Dalam pertunjukan interaktif, AG mengungkapkan kerinduan mendalam untuk pulang dan merayakan Lebaran bersama keluarga.
"Hai, saya AG. Saya ingin pulang, rindu pulang," ucapnya dengan suara bergetar, mewakili perasaan teman-temannya.
Lebih dari sekadar hiburan, Ramadhan Budaya menjadi wadah bagi anak-anak LPKA untuk berbagi mimpi. AG, dengan mata berbinar, menyampaikan cita-citanya untuk berubah menjadi lebih baik dan membahagiakan ibunya.
"Kawan-kawan, saya ingin berubah. Mimpi saya, jika keluar nanti, saya ingin menghidupi ibu saya dan membuatkan dia rumah," ujarnya.
Wayang Botol: Simbol Harapan
Tim SPWS menyambut mimpi AG dengan semangat. Mereka menekankan bahwa mimpi adalah kunci untuk meraih masa depan. Dalang wayang botol, Abdul Latif Apriaman, berpesan agar anak-anak terus berusaha menjadi lebih baik dan tidak kembali ke LPKA, kecuali untuk memberikan motivasi.
Hendri Andriawan, penggagas Ramadhan Budaya, menjelaskan bahwa tujuan mereka adalah menghibur anak-anak yang jauh dari keluarga. Ia percaya, di balik topeng yang mereka kenakan, terdapat potensi besar yang menunggu untuk digali.
LPKA: Bukan Penjara, Melainkan Pondok Pesantren
Mulyadi Gani, Kepala LPKA kelas II Lombok Tengah, menegaskan bahwa meski acara diadakan di dalam lapas, keamanan tetap menjadi prioritas. Namun, ia menekankan bahwa suasana di LPKA lebih mirip sekolah atau pondok pesantren.
"Di sini mereka tidak merasa tertekan. Tempat ini lebih mirip sekolah atau pondok pesantren, di mana mereka dilatih disiplin tanpa tekanan," jelas Mulyadi.
Ia menambahkan bahwa anak-anak binaan dianggap sebagai anak didik yang membutuhkan bimbingan, bukan tahanan. Mulyadi berharap kegiatan positif seperti Ramadhan Budaya dapat memberikan rasa nyaman dan tidak terasing bagi anak-anak.
Ramadhan Budaya menjadi oase di tengah keterbatasan. Kegiatan ini memberikan harapan baru bagi anak-anak LPKA, membangkitkan mimpi untuk pulang dan berjuang menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga kerinduan mereka segera terobati dan masa depan cerah menanti di depan mata.
-
Kegiatan yang dilakukan:
- Pertunjukan Hadrah
- Pertunjukan Wayang Botol
- Sesi Berbagi dan Motivasi
-
Pesan yang Disampaikan:
- Mimpi adalah kunci masa depan.
- Berusaha menjadi lebih baik.
- Jangan pernah menyerah.