Gempa Mandalay: Ribuan Bangunan Hancur, Warisan Budaya Myanmar Terancam
Gempa Dahsyat Landa Mandalay, Myanmar: Dampak Signifikan pada Warisan Budaya
Jumat, 28 Maret 2025, menjadi hari kelabu bagi Mandalay, Myanmar, setelah diguncang gempa bumi berkekuatan 7,7 SR. Guncangan hebat ini tidak hanya merenggut ribuan nyawa, tetapi juga menghancurkan ribuan bangunan, termasuk situs-situs bersejarah dan keagamaan yang merupakan jantung dari warisan budaya Myanmar.
Kota Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar dengan populasi sekitar 1,5 juta jiwa, terletak sekitar 60 kilometer dari pusat gempa di barat laut Kota Sagaing. Kerusakan parah melanda kota ini, dengan banyak bangunan yang rata dengan tanah.
Kerusakan Infrastruktur dan Bangunan Bersejarah
Foto dan video yang beredar luas menunjukkan skala kerusakan yang mengerikan. Bangunan-bangunan bersejarah dan situs keagamaan di kota bersejarah ini, yang terletak strategis di sisi timur Sungai Irrawaddy (sungai terpanjang yang mengalir dari utara ke selatan Myanmar sepanjang 2.170 kilometer), mengalami kerusakan yang signifikan.
Data terbaru dari pemerintah Myanmar menunjukkan bahwa lebih dari 3.000 bangunan mengalami kerusakan, termasuk sekitar 150 masjid dan pagoda. Beberapa contoh kerusakan parah meliputi:
- Biara Bata Me Nu: Biara berusia 200 tahun di barat daya Mandalay sebagian besar hancur. Struktur balkon khasnya runtuh di sekitar dinding interior yang luas.
- Pagoda Shwe Sar Yan: Sebuah video menunjukkan menara emas yang dihias dengan indah di Pagoda Shwe Sar Yan, di tenggara Mandalay, runtuh, disambut dengan teriakan panik dari para saksi.
- Pagoda di Tembok Istana Mandalay: Sebuah pagoda besar yang berdiri di tembok istana Mandalay miring tajam, sementara bagian lain dari tembok itu runtuh.
- Biara Masoeyein Baru: Di sebelah barat kota, para biksu Buddha berkumpul di sekitar reruntuhan menara jam dekoratif, pusat dari Biara Masoeyein Baru. Beberapa saat kemudian, bangunan biara lima lantai itu runtuh di depan mata mereka. Lusinan biksu yang tinggal di biara tersebut terpaksa tidur di jalan-jalan terdekat.
Jaringan Hak Asasi Manusia Burma membagikan foto-foto yang menunjukkan menara dan kubah masjid yang runtuh di berbagai wilayah negara itu. Situs berita daring Mizzima melaporkan, mengutip pejabat lokal dan penduduk, bahwa 490 orang tewas akibat runtuhnya masjid.
Di Pindaya, sekitar 70 mil dari pusat gempa, sebuah stupa (monumen Buddha) yang menghiasi sebuah biara besar roboh, dan retakan besar membelah fondasi bangunan lain yang selamat. Sisa-sisa menara emas dan batu bata merah berserakan di tanah.
Dampak Lebih Luas dan Upaya Bantuan
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa kerusakan pada jalan raya utama yang menghubungkan Yangon, Ibu Kota Naypyidaw, dan Mandalay telah menyebabkan gangguan transportasi yang parah. Hal ini mempersulit upaya pengiriman bantuan dan evakuasi korban.
Gempa Mandalay tidak hanya menjadi tragedi kemanusiaan, tetapi juga ancaman serius bagi warisan budaya Myanmar. Upaya restorasi dan rekonstruksi harus segera dilakukan untuk menyelamatkan situs-situs bersejarah yang tersisa dan memastikan bahwa warisan berharga ini dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Pemerintah Myanmar dan organisasi internasional perlu bekerja sama untuk memberikan bantuan yang dibutuhkan dan membangun kembali kehidupan masyarakat yang terdampak oleh bencana ini.