Banjir Kampung Gabus: Inovasi Warga Ubah Bencana Jadi Ladang Rezeki

Banjir Kampung Gabus: Inovasi Warga Ubah Bencana Jadi Ladang Rezeki

Banjir yang melanda Kampung Gabus, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, sejak Selasa (4/3/2025) telah menciptakan dinamika ekonomi tak terduga. Alih-alih hanya menjadi korban bencana, sejumlah warga Kampung Gabus justru berinisiatif mengubah situasi tersebut menjadi peluang usaha. Dengan kreativitas dan kerja keras, mereka berhasil menciptakan layanan jasa angkut sepeda motor yang menghasilkan pendapatan signifikan di tengah genangan air yang menggenangi jalan utama kampung tersebut.

Jalan Kampung Gabus, yang terendam banjir dengan ketinggian bervariasi antara 30 hingga 70 sentimeter, terputus aksesnya setelah Pasar Gabus dan sebelum pintu masuk Tol Gabus. Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh warga setempat. Mereka memodifikasi gerobak-gerobak sederhana menjadi alat transportasi darurat. Dengan menambahkan balok kayu sebagai pijakan, gerobak-gerobak tersebut disulap menjadi wahana pengangkut sepeda motor dan pengemudinya. Sekitar enam gerobak beroperasi secara bergantian, masing-masing dikerjakan oleh empat hingga lima orang, melayani rute sepanjang 500 meter yang terendam banjir.

Horen (31), salah satu warga Kampung Gabus yang gigih memanfaatkan kesempatan ini, telah membuka jasa angkut sepeda motor sejak Selasa. Ia mengungkapkan pendapatannya yang cukup mencengangkan: sekitar Rp 700.000 per hari. Keuntungan tersebut dibagi rata dengan tiga rekannya yang bahu-membahu mendorong gerobak di tengah genangan air. Horen bukanlah pendatang baru dalam bisnis ini. Pengalaman serupa pernah ia lakoni pada saat banjir besar melanda Kampung Gabus pada tahun 2020, di mana ia berhasil meraup pendapatan hingga Rp 2,5 juta. Pendapatan ini, menurut Horen, sangat berarti dalam memenuhi kebutuhan keluarganya selama masa sulit akibat bencana tersebut.

"Kalau kemarin dapat Rp 700.000, untuk hari ini belum tahu dapat berapa," ujar Horen kepada Kompas.com, Rabu (5/3/2025). Horen juga menunjukkan empati kepada sesama warga yang terdampak banjir. Ia tidak kaku dalam menetapkan tarif jasa angkut. Bagi warga yang kesulitan secara ekonomi, Horen bersedia menerima penawaran harga yang lebih rendah, dengan menekankan semangat kebersamaan dan gotong royong dalam menghadapi musibah ini. "Kadang ada yang nawar Rp 30.000 enggak apa-apa kita kasih karena nolong karena menolong, kita ngertiin karena mungkin enggak ada duit," tambahnya.

Odeng (40), warga lainnya, juga turut merasakan manfaat ekonomi dari jasa angkut sepeda motor ini. Meskipun baru memulai pada hari Rabu, Odeng merasa pendapatan yang diperolehnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya di tengah kesulitan mencari pekerjaan lain akibat banjir. "Lumayan buat beli beras juga," katanya. Kisah Horen dan Odeng mencerminkan daya juang dan kreativitas warga Kampung Gabus dalam menghadapi bencana. Mereka membuktikan bahwa dalam situasi sulit sekalipun, peluang masih bisa ditemukan dan dimanfaatkan dengan bijak. Keberhasilan mereka juga menjadi inspirasi bagi masyarakat lain dalam menghadapi tantangan serupa di masa mendatang.


Daftar layanan jasa:

  • Pengangkutan sepeda motor dan penumpang melewati jalur terendam banjir.
  • Jarak tempuh sekitar 500 meter.
  • Tarif Rp 50.000 per sekali jalan (negosiabel).

Catatan: Data pendapatan bersifat perkiraan dan dapat bervariasi setiap harinya, tergantung jumlah permintaan jasa angkut.