Harga Kelapa Melonjak Drastis Jelang Lebaran, Ibu Rumah Tangga Keluhkan Opor Mahal: Diduga Imbas Kenaikan Ekspor

Kenaikan Harga Kelapa Jelang Lebaran Resahkan Ibu Rumah Tangga

Jakarta, [Tanggal Hari Ini] - Kenaikan harga bahan pangan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 H yang akan jatuh pada 31 Maret 2025, semakin memberatkan masyarakat. Tak hanya harga cabai dan daging sapi yang melambung tinggi, kini harga kelapa sebagai bahan utama pembuatan opor, hidangan khas Lebaran, juga mengalami kenaikan signifikan.

Rivi (29), seorang ibu rumah tangga di kawasan Sentul, mengungkapkan keterkejutannya saat mendapati harga kelapa di pasar dekat rumahnya telah mencapai Rp 30.000 per butir. "Kaget banget, sekarang satu kelapa sudah Rp 30.000," ujarnya.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Yuni (50), seorang pelanggan tetap pedagang kelapa di Pasar Pocong, Kabupaten Bogor. Ia mengaku terkejut saat mengetahui harga kelapa yang sudah diparut menjadi santan mencapai Rp 30.000 per butir. Bahkan, menurut informasi dari sesama pedagang di Bintaro, harga kelapa bisa mencapai Rp 35.000 per butir. Yuni juga menambahkan bahwa pasokan kelapa ke pedagang langganannya berkurang drastis, dari 2.000 butir menjadi hanya 700 butir. "Sepertinya Lebaran tahun ini kita akan makan opor termahal," keluhnya.

Ari (40), seorang pedagang makanan di dekat Pasar Ceger, Tangerang Selatan, membenarkan adanya kenaikan harga kelapa. Ia mengatakan bahwa pekan lalu harga kelapa masih berkisar Rp 15.000 per butir, namun sejak Jumat (28/3/2025) naik menjadi Rp 20.000 per butir.

Sayangnya, fluktuasi harga kelapa tidak tercatat dalam panel harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) maupun Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia (BI), sehingga menyulitkan pemantauan dan pengendalian harga.

Diduga Kenaikan Ekspor Jadi Pemicu

Melonjaknya harga kelapa ini diduga kuat disebabkan oleh peningkatan permintaan ekspor dan kebutuhan industri dalam negeri. Data menunjukkan bahwa ekspor kelapa bulat pada Januari-Februari 2025 mencapai 71.077 ton, dengan tujuan utama China (68.065 ton), diikuti oleh Vietnam, Thailand, dan Malaysia.

Menteri Perdagangan Budi Santoso sebelumnya telah mengakui adanya peningkatan permintaan ekspor sebagai salah satu faktor pendorong kenaikan harga kelapa. Selain itu, penurunan produksi kelapa pada tahun 2024 sebesar 0,5 persen, menjadi 14,11 miliar butir, juga turut memperparah kondisi ini.

Kondisi ini mendorong Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk merekomendasikan moratorium ekspor kelapa bulat selama 3-6 bulan. Tujuannya adalah untuk memastikan ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan kelapa dalam negeri.

"Kami mengusulkan moratorium atau pengendalian ekspor bahan baku kelapa bulat untuk jangka waktu pendek 3-6 bulan," tegas Dirjen Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika.

Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI) juga menyoroti masalah ini. Mereka khawatir bahwa ekspor kelapa bulat justru akan menguntungkan negara lain, sementara industri dalam negeri kesulitan mendapatkan bahan baku.

Ketua Bidang Industri Aneka Produk Kelapa HIPKI, Dippos Naloanro Simanjuntak, mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada solusi konkret untuk mengatasi kelangkaan bahan baku kelapa. Ia juga menambahkan:

"Kami khawatir ekspor kelapa bulat justru akan menguntungkan industri kelapa negara-negara lain. Sementara industri dalam negeri justru mengurangi kapasitas produksi, bahkan tutup."

Kelangkaan kelapa di Indonesia diperparah oleh dampak El Nino yang terjadi pada semester II-2023 hingga kuartal I-2024.