Garebeg Syawal Yogyakarta: Kembalinya Abdi Dalem Palawija dan Pembagian Gunungan

Garebeg Syawal Yogyakarta: Kembalinya Abdi Dalem Palawija dan Pembagian Gunungan

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar upacara agung Garebeg Syawal, sebuah tradisi luhur yang menandai puncak perayaan Idul Fitri 1446 Hijriah (31 Maret 2025). Upacara ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata budaya, tetapi juga sarat makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Tahun ini, perayaan Garebeg Syawal terasa istimewa dengan kembalinya Abdi Dalem Palawija, kelompok abdi dalem dengan kondisi fisik khusus yang bertugas dalam upacara-upacara penting keraton.

Garebeg, yang secara etimologis berasal dari kata Jawa yang bermakna 'mengikuti dari belakang', merupakan perwujudan rasa syukur keraton atas limpahan berkah dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Esensinya adalah Hajad Dalem, sebuah upacara budaya yang diselenggarakan keraton untuk memperingati hari-hari besar Islam. KRT Kusumanegara, Koordinator Pelaksanaan Garebeg Syawal 2025, menjelaskan bahwa Garebeg merupakan simbol kemurahan hati raja (karaton) kepada rakyatnya, diwujudkan dalam bentuk gunungan yang berisi hasil bumi.

Prosesi dan Makna Gunungan

Inti dari Garebeg Syawal adalah arak-arakan gunungan, tumpukan hasil bumi yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk visual yang menarik. Lima jenis gunungan yang diarak pada Garebeg Syawal kali ini adalah:

  • Gunungan Kakung: Simbol maskulinitas dan kekuatan, sebanyak tiga buah gunungan ini dibawa ke Masjid Gedhe Kauman, Pura Pakualaman, dan Kantor Kepatihan.
  • Gunungan Estri/Wadon: Simbol feminitas dan kesuburan.
  • Gunungan Gepak: Simbol keseimbangan dan harmoni.
  • Gunungan Dharat: Simbol kekayaan bumi dan hasil pertanian.
  • Gunungan Pawuhan: Simbol penyucian diri dan pembersihan jiwa.

Tujuh gunungan, termasuk tiga Gunungan Kakung, dikawal oleh sepuluh bregada prajurit keraton yang gagah berani, termasuk Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jogokarya, Prawiratama, Ketanggung, Mantrijero, Nyutro, Bugis, dan Surakarsa. Bregada Bugis bertugas mengawal gunungan hingga ke Kepatihan, sementara prajurit Pura Pakualaman (Dragunder dan Plangkir) mengawal gunungan menuju Pura Pakualaman. Setelah didoakan di Masjid Gedhe, gunungan didistribusikan ke berbagai lokasi, termasuk Pura Pakualaman dan Kepatihan, untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Kembalinya Abdi Dalem Palawija

Kehadiran Abdi Dalem Palawija menjadi sorotan utama dalam Garebeg Syawal kali ini. Setelah absen dalam beberapa perayaan terakhir, kelompok abdi dalem ini kembali mengiringi upacara penting tersebut. Abdi Dalem Palawija, dengan kondisi fisik khusus, memiliki peran simbolis yang kuat dalam menjaga kesakralan dan keluhuran tradisi keraton.

Rute Arak-Arakan dan Antusiasme Warga

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, rute arak-arakan gunungan pada Garebeg Syawal kali ini tidak melintasi Alun-alun Utara. Gunungan yang berada di Bangsal Poncaniti, Kamandungan Lor, dibawa melalui Regol Brajanala-Sitihinggil Lor-Pagelaran menuju Masjid Gedhe. Perubahan rute ini tidak mengurangi antusiasme ribuan warga yang datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan upacara adat tersebut. Mereka berkerumun di pinggir jalan, menanti dengan sabar iring-iringan prajurit dan gunungan yang melintas.

Aji, seorang warga Semarang, mengaku selalu menyempatkan diri untuk menyaksikan Garebeg setiap kali mudik ke Bantul. Baginya, Garebeg adalah bagian dari tradisi keluarga yang telah diwariskan turun-temurun. “Sudah beberapa kali, kalau pas mudik menyempatkan datang melihat Garebeg. Dulu waktu saya kecil juga sering diajak orangtua nonton di Alun-alun,” ujarnya.

Garebeg Syawal bukan sekadar upacara adat, tetapi juga manifestasi dari nilai-nilai luhur budaya Jawa, seperti gotong royong, kerukunan, dan rasa syukur. Perayaan ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga tradisi dan melestarikan warisan budaya untuk generasi mendatang.