Ironi Lebaran di Malioboro: Wisatawan Membeludak, Kusir Andong Merana

Libur Lebaran di Malioboro: Antara Ramai Wisatawan dan Sepinya Andong

Euforia libur Lebaran tahun ini dirasakan di berbagai pelosok negeri, tak terkecuali kawasan Malioboro, Yogyakarta. Arus wisatawan membanjiri ikon wisata tersebut, menciptakan pemandangan yang kontras dengan realita yang dihadapi para kusir andong. Di tengah keramaian, mereka justru mengeluhkan sepinya penumpang, berdampak signifikan pada pendapatan mereka.

Aan, seorang kusir andong asal Bantul, mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, meskipun Malioboro dipadati pengunjung, minat terhadap jasa andong justru menurun drastis. "Lebaran tahun ini sepi sekali. Penumpang sangat sedikit. Jauh berbeda dengan Lebaran tahun lalu, di mana saya bisa mendapatkan hingga lima orderan," ujarnya, seperti dikutip dari detikJogja.

Kondisi serupa juga dirasakan oleh Tri Barjo, kusir andong lainnya yang berasal dari Kota Yogyakarta. Ia mengaku baru melayani dua pelanggan sepanjang hari. "Sangat sepi, meskipun banyak orang lalu lalang, tapi tidak ada yang berminat naik andong. Baru dua kali saya menarik hari ini," keluhnya.

Perbandingan Pendapatan yang Signifikan

Perbandingan pendapatan antara Lebaran tahun ini dan tahun sebelumnya sangat mencolok. Aan dan Tri sama-sama mengakui bahwa Lebaran tahun lalu menjadi momen panen bagi mereka. Tri bahkan mampu melayani hingga 15 pelanggan dalam sehari. Namun, tahun ini, ia pesimis bisa mendapatkan lebih dari lima pelanggan.

"Dibanding tahun lalu, jauh sekali perbedaannya. Lebaran kemarin bisa sampai 15 kali narik. Kalau tahun ini paling mentok lima orang saja," ungkap Tri.

Harga Jasa Andong dan Harapan Kusir

Saat libur Lebaran, tarif sekali keliling Malioboro dengan andong dipatok sebesar Rp 150 ribu. Harga ini lebih tinggi dibandingkan hari-hari biasa yang hanya Rp 100 ribu. Meskipun sepi penumpang, Aan dan Tri belum berencana menurunkan tarif. Mereka berharap kondisi akan kembali normal dalam beberapa hari ke depan.

"Hari-hari biasa cuma Rp 100 ribu, kalau pas Lebaran Rp 150 ribu aja. Belum kepikiran buat nurunin harga, nanti dilihat dulu besok seperti apa," kata Aan.

Tri menambahkan, "Ya tetap disyukuri aja, mungkin dua hari apa tiga hari udah balik normal (ke harga Rp 100 ribu)."

Andong Yogyakarta: Warisan Budaya yang Terancam?

Andong telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari Yogyakarta dan menjadi daya tarik wisata yang khas. Pada tahun 2019, andong Yogyakarta bahkan dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kusir andong di Malioboro terus mengalami penurunan. Pandemi Covid-19 menjadi pukulan berat bagi mereka, memaksa sebagian kusir untuk menjual kuda dan andongnya karena tidak mampu merawatnya.

Data menunjukkan bahwa saat ini hanya sekitar 387 andong yang aktif beroperasi di Malioboro, dengan total 421 kusir andong di seluruh DIY. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan kelangsungan warisan budaya ini di tengah gempuran modernisasi dan perubahan perilaku wisatawan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penurunan Minat Terhadap Andong

Beberapa faktor diduga menjadi penyebab menurunnya minat wisatawan terhadap jasa andong. Di antaranya:

  • Peningkatan Kesadaran Akan Kesejahteraan Hewan: Semakin banyak wisatawan yang peduli terhadap kesejahteraan hewan, termasuk kuda yang menarik andong. Mereka mungkin merasa tidak nyaman atau bersalah menggunakan jasa andong.
  • Alternatif Transportasi yang Lebih Praktis: Tersedianya berbagai alternatif transportasi yang lebih modern dan praktis, seperti taksi online, bus Trans Jogja, dan kendaraan sewa, membuat wisatawan cenderung memilih opsi yang lebih cepat dan nyaman.
  • Perubahan Tren Wisata: Tren wisata saat ini cenderung mengarah pada pengalaman yang lebih personal dan fleksibel. Wisatawan mungkin lebih memilih menjelajahi Malioboro dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda untuk menikmati suasana secara lebih mendalam.

Upaya Pelestarian Andong Yogyakarta

Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, berbagai pihak perlu mengambil langkah-langkah konkret untuk melestarikan andong Yogyakarta sebagai warisan budaya. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:

  • Peningkatan Kesejahteraan Kuda: Pemerintah daerah dan komunitas terkait perlu memberikan perhatian lebih terhadap kesejahteraan kuda-kuda yang menarik andong. Hal ini dapat dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan rutin, penyediaan pakan yang berkualitas, dan peningkatan fasilitas perawatan kuda.
  • Promosi Andong Sebagai Pengalaman Wisata Unik: Andong perlu dipromosikan sebagai pengalaman wisata yang unik dan otentik, yang menawarkan cara berbeda untuk menikmati keindahan Malioboro. Promosi dapat dilakukan melalui berbagai media, termasuk media sosial, website pariwisata, dan kerjasama dengan agen perjalanan.
  • Pengembangan Rute Wisata Andong yang Menarik: Rute wisata andong perlu dikembangkan agar lebih menarik dan relevan dengan minat wisatawan. Rute dapat mencakup tempat-tempat bersejarah, pusat kuliner, dan lokasi-lokasi menarik lainnya di sekitar Malioboro.
  • Pemberdayaan Kusir Andong: Kusir andong perlu diberdayakan melalui pelatihan, pendampingan, dan bantuan modal untuk meningkatkan kualitas layanan dan kesejahteraan mereka. Pelatihan dapat mencakup keterampilan komunikasi, pengetahuan tentang sejarah dan budaya Yogyakarta, serta pengelolaan keuangan.

Dengan upaya bersama dari berbagai pihak, diharapkan andong Yogyakarta dapat terus lestari dan menjadi bagian tak terpisahkan dari daya tarik wisata kota gudeg ini.