Pengorbanan di Balik Layar: Kisah Jurnalis yang Rela Tunda Mudik Demi Informasi

Momen Idul Fitri, yang bagi sebagian besar orang adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan merayakan kebersamaan di kampung halaman, menyimpan cerita berbeda bagi sebagian kalangan profesional. Salah satunya adalah para jurnalis, yang seringkali harus mengesampingkan keinginan pribadi demi menjalankan tugas menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Thifal, seorang jurnalis televisi berusia 29 tahun, telah merasakan pahit manisnya merayakan Lebaran jauh dari keluarga selama sembilan tahun terakhir. Profesi yang ia geluti menuntutnya untuk tetap siaga di saat banyak orang menikmati libur panjang. "Lebaran tepat waktu di rumah? Belum pernah lagi," ungkapnya, mencerminkan realita yang dihadapi banyak rekan seprofesinya.

Tantangan Menyesuaikan Jadwal Mudik

Jadwal mudik bagi Thifal bukanlah sesuatu yang bisa direncanakan jauh-jauh hari. Ia harus menyesuaikan dengan ketersediaan sumber daya manusia di kantornya, memastikan tidak ada kekosongan posisi yang dapat menghambat kelancaran produksi berita. Seringkali, ia baru bisa mudik beberapa hari atau bahkan beberapa minggu setelah Lebaran usai. Tahun ini pun, Thifal baru berkesempatan pulang kampung di akhir bulan.

"Paling cepat sih satu minggu setelah Lebaran ya. Tapi, kadang menyesuaikan lagi kalau kebutuhan timnya masih ada setelah itu ya tinggal dicocok-cocokkan lagi saja di jadwal dengan koordinator liputan," jelasnya.

Adaptasi dengan Keadaan

Pengalaman pertama merayakan Lebaran jauh dari keluarga tentu bukan hal yang mudah bagi Thifal. Ia merasakan perbedaan mencolok antara euforia libur Lebaran yang biasa ia rasakan saat kuliah dengan tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya tetap produktif. Alih-alih memikirkan rencana liburan, ia justru harus fokus pada pencarian materi liputan dan penentuan angle berita.

"Biasanya kan menuju Lebaran baik buat liburan pergi main ketemu teman, singgah ke keluarga. Tapi kondisinya awal-awal tahun malah kepikiran buat kerja. Cari materi, mikirin angle liputan mau ngambil soal apa. Merhatiin orang pada liburan. Di satu sisi kayak aduh harusnya aku yang pergi jalan, kenapa aku malah mantauin orang," kenangnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, Thifal belajar untuk beradaptasi dan menerima konsekuensi dari profesi yang ia pilih. Ia menyadari bahwa pekerjaannya sebagai jurnalis adalah bagian dari pelayanan informasi kepada masyarakat, yang terkadang membutuhkan pengorbanan pribadi.

"Ini risiko kerja kita di bidang jasa, jasa informasi. Ya terima saja segala risikonya, kita juga akan tetap libur ya," ujarnya dengan nada bijak.

Kerinduan Akan Kuliner Kampung Halaman

Seperti halnya banyak orang Indonesia lainnya, Thifal juga merasakan kerinduan akan hidangan khas Lebaran di kampung halamannya. Sebagai orang Sumatera, rendang menjadi menu wajib yang selalu ia nantikan. Selain itu, makanan Padang lainnya seperti tambusu juga menjadi favoritnya saat berkunjung ke Sumatera Barat.

"Jelas makanan-makanan khas kampung tuh banyak tuh. Rendang, ada tambusu kadang kalau mau pergi jalan-jalan ke Bukittinggi waktu pulang kampung," katanya.

Tentu saja, opor ayam, hidangan khas Lebaran yang selalu hadir di meja makan keluarga, juga tak luput dari daftar makanan yang ia rindukan.

Konsekuensi Pekerjaan yang Dimaklumi

Thifal tidak pernah mengeluhkan keterlambatan mudiknya. Ia menyadari bahwa hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari profesi yang ia geluti. Ia juga menyadari bahwa banyak profesional di bidang jasa lainnya juga mengalami hal serupa.

"Dan entah itu masinis, entah pilot, entah flight attendant, apalagi sopir Transjakarta. Ya apapun bidang-bidang yang di sektor-sektor jasa yang bekerja untuk saat ini. Mau enggak mau suka-enggak suka harus mengorbankan hari liburnya demi menjalankan tugas," paparnya.

Video Call Sebagai Pengganti Kebersamaan Fisik

Keluarga Thifal selalu memberikan dukungan dan pemahaman penuh terhadap pekerjaannya. Ibunya, yang pernah bekerja sebagai perawat, juga pernah merasakan sulitnya merayakan Lebaran bersama keluarga. Ditambah lagi, adiknya saat ini sedang menempuh pendidikan residen di Yogyakarta, semakin menambah jarak di antara mereka.

Untuk mengatasi kerinduan dan tetap menjalin silaturahmi, keluarga Thifal memanfaatkan teknologi dengan melakukan panggilan video (video call) saat Lebaran. "Kalau kangen mudik, ya paling video call. Kalau enggak video call ya telepon biasa dulu. Video call bareng-bareng," jelasnya.

Terlepas dari segala tantangan dan pengorbanan yang harus dihadapi, Thifal merasa bersyukur atas dukungan yang diberikan oleh orang tua dan kedua adiknya. Mereka tidak pernah memberikan tekanan atau kritik terkait pekerjaannya.

"Orangtua pun sampai detik ini mereka masih mendukung saya buat kerja di bidang ini. Dan enggak ada kritik apapun lah soal risiko-risiko kerja yang saya hadapi sekarang," ungkapnya.

Profesi Jurnalis Sebagai Pembelajaran Berharga

Bagi Thifal, profesi jurnalis bukan hanya sekadar pekerjaan, tetapi juga sebuah pembelajaran yang berharga. Ia merasa mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan yang tidak akan ia peroleh di bidang pekerjaan lainnya.

"Profesi jadi wartawan ini ngasih aku banyak hal yang bahkan nggak pernah kudapatkan, yang kurangkan nggak akan kudapatkan di pekerjaan-pekerjaan lain," tuturnya.

Setiap hari, Thifal selalu belajar hal-hal baru dan mendapatkan wawasan yang luas. Ia menganggap pekerjaannya seperti kuliah setiap hari tanpa harus membayar biaya pendidikan. "Aku makanya selalu bilang kalau kerja jadi wartawan, kataku selalu kuliah setiap hari tanpa harus bayar uang kuliah, tanpa harus bayar uang SPP," pungkasnya.

Kisah Thifal adalah representasi dari dedikasi dan pengorbanan para jurnalis yang rela menunda kebersamaan dengan keluarga demi menjalankan tugas mulia menyampaikan informasi kepada masyarakat. Semangat mereka patut diapresiasi dan menjadi inspirasi bagi kita semua.