Dewi Yull dan Anak-Anak Terisak di Pemakaman Ray Sahetapy: Ungkapan Cinta Terakhir
Kepergian aktor legendaris Ray Sahetapy meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan seluruh dunia perfilman Indonesia. Di tengah suasana duka yang menyelimuti TPU Tanah Kusir, Jakarta, kehadiran mantan istrinya, Dewi Yull, menjadi sorotan. Wanita yang pernah berbagi hidup selama 23 tahun dengan Ray, hadir memberikan penghormatan terakhir dengan penuh ketegaran namun tak mampu menyembunyikan kesedihan.
Dewi Yull, yang mengenakan pakaian serba putih dan kacamata hitam, tiba di pemakaman dengan senyum tipis yang menyapa setiap pelayat. Namun, di balik ketegarannya, terlihat jelas kesedihan yang mendalam. Momen haru terjadi usai prosesi pemakaman, ketika Dewi Yull memeluk erat kedua putranya, Rama dan Surya Sahetapy. Pelukan itu menjadi simbol kekuatan dan ungkapan cinta yang tak terucapkan. Rama, putra sulung mereka, tampak berusaha menenangkan ibunya yang tak kuasa menahan air mata. Surya Sahetapy, putra kedua yang merupakan penyandang disabilitas tuna wicara, juga tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Ia menangis terisak setelah jenazah sang ayah dikebumikan.
Momen Haru di Sisi Nisan
Saat prosesi tabur bunga, Dewi Yull tampak termenung di sisi nisan Ray Sahetapy. Dalam keheningan, ia seolah berbicara dengan almarhum, mengenang masa-masa indah yang pernah mereka lalui bersama. Setelah beberapa saat, ia bangkit dan kembali memeluk anggota keluarganya, memberikan dukungan dan kekuatan di tengah duka yang mendalam.
Sesi foto keluarga menjadi momen terakhir kebersamaan mereka di sisi makam Ray Sahetapy. Dewi Yull, bersama anak-anak dan cucu-cucunya, berfoto sebagai kenang-kenangan terakhir. Setelah itu, Rama dan menantunya, Merdianti Octavia, mengantarkan Dewi Yull menuju mobil, mengakhiri prosesi pemakaman yang penuh haru.
Doa Tulus dari Dewi Yull
Dewi Yull tidak banyak memberikan pernyataan kepada media. Dengan suara lembut, ia hanya memohon doa untuk almarhum Ray Sahetapy.
"Terima kasih ya semua... mohon doanya," ucap Dewi Yull.
Surya Sahetapy, yang baru tiba dari luar kota setelah mendengar kabar kondisi kritis ayahnya, mengungkapkan kesedihannya yang mendalam. Ia mengaku sempat bimbang antara melanjutkan pekerjaan atau segera kembali ke Indonesia.
"Sempat bingung mau lanjut kerja ke kampus atau gimana dan akhirnya bilang ke dosen Karena ada situasi emergency," kata Surya Sahetapy.
Kabar duka kematian Ray Sahetapy disampaikan oleh kakak iparnya, Merdianti Octavia, melalui pesan singkat. Surya Sahetapy tak henti-hentinya menangis setelah menerima kabar tersebut.
"Kak Merdi WhatsApp bilang ayah sudah meninggal. Jadi merasa hidup berubah, merasa lemas gitu ya dan (antara) percaya (dan) nggak, (setiap) 30 menit, 20 menit sekali nangis," ungkap Surya Sahetapy.
Ray Sahetapy menghembuskan nafas terakhir pada usia 65 tahun setelah berjuang melawan komplikasi penyakit diabetes, stroke, dan gangguan paru-paru. Jenazahnya disemayamkan selama tiga hari di Rumah Duka Sentosa RSPAD Gatot Subroto sebelum dimakamkan di TPU Tanah Kusir.