Kisah Sukses Perawat Indonesia: Dari Pelayan Lansia Hingga Pimpinan di Panti Jompo Jepang
Jejak Ahmad Naeni: Dedikasi Perawat Indonesia di Negeri Sakura
Kisah inspiratif datang dari Ahmad Naeni Nahwul Umam, seorang perawat asal Indonesia yang berhasil meniti karier gemilang di Jepang. Lebih dari satu dekade mengabdikan diri dalam perawatan lansia, Ahmad kini menduduki posisi strategis sebagai leader, atau kepala ruangan, di sebuah fasilitas perawatan lansia terkemuka di Jepang.
Perjalanan Ahmad dimulai melalui Program Careworker (Kaigofukushishi) G to G Indonesia Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), sebuah inisiatif yang membuka pintu bagi tenaga kerja Indonesia untuk berkontribusi di sektor perawatan Jepang. Sebelum menginjakkan kaki di Negeri Sakura, Ahmad menjalani pelatihan intensif bahasa Jepang selama enam bulan di Indonesia. Setibanya di Jepang, pelatihan keterampilan selama enam bulan kembali menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan sebagai perawat lansia.
Menaklukkan Ujian Kompetensi dan Meraih Lisensi
Perjuangan Ahmad tidak berhenti setelah ia mulai bekerja. Ia harus mengikuti uji kompetensi yang ketat untuk mendapatkan pengakuan resmi sebagai perawat berlisensi di Jepang. Ujian nasional yang dikenal dengan nama 介護福祉士国家試験 (kaigofukushishi kokka shiken) menjadi penentu keberlanjutan kariernya di Jepang.
"Saya bekerja selama tiga tahun dulu di sini, kemudian mengikuti uji kompetensi atau ujian nasional di Jepang gitu. Setelah saya lulus ujian nasional baru saya dianggap sebagai perawat kayak yang lain," ungkap Ahmad, menggambarkan betapa pentingnya lisensi tersebut.
Lisensi ini bukan sekadar formalitas. Sertifikat kelulusan uji kompetensi membuka akses ke berbagai tunjangan, mulai dari tunjangan lisensi, tunjangan keluarga, hingga tunjangan anak. Lebih dari itu, lisensi ini menjadi jaminan bagi Ahmad untuk menjadi pekerja tetap di Jepang, memberikan stabilitas dan kepastian hingga masa pensiun.
Gaji dan Tunjangan
Pada tahap awal kariernya, Ahmad mengungkapkan bahwa perawat lansia di Jepang dapat memperoleh gaji bersih sekitar Rp 14 juta hingga Rp 15 juta. Angka ini bisa meningkat seiring dengan pengalaman dan peningkatan kualifikasi.
Adaptasi Budaya Kerja dan Profesionalisme
Memasuki dunia kerja di Jepang, Ahmad menghadapi tantangan adaptasi budaya. Selain penguasaan bahasa Jepang, ia juga harus memahami istilah medis yang berbeda dengan yang dipelajari di Indonesia. Perbedaan budaya kerja juga menjadi perhatian penting. Di Jepang, profesionalisme dijunjung tinggi, dan batasan antara perawat dan pasien harus tetap dijaga.
"Antara perawat dan pasien kayak semacam keluarga gitu ya, kalau sudah terlalu dekat. Tapi kalau misalnya di Jepang sendiri itu kita enggak bisa seperti itu. Kita harus profesional," jelas Ahmad, menekankan pentingnya profesionalisme dalam interaksi dengan pasien.
Integrasi Teknologi dalam Pelayanan
Salah satu aspek menarik dari sistem perawatan lansia di Jepang adalah pemanfaatan teknologi canggih. Ahmad menjelaskan bahwa hampir semua prosedur kesehatan telah terdigitalisasi, menuntut perawat untuk terampil dalam mengoperasikan berbagai layanan berbasis teknologi.
"Kami di sini berbasis digital. Jadi semuanya sudah sistem online. Misal saya klik di ruangan saya di ruang 4A, saya masukin data di situ. Jadi seluruh ruangan yang ada di gedung saya itu sudah bisa melihat Itu untuk pencatatannya," kata Ahmad.
Teknologi juga digunakan untuk membantu pemindahan dan pengangkatan pasien dengan alat bernama sukairifuto, sehingga mengurangi risiko cedera bagi perawat.
Kebersihan dan Standarisasi
Selain teknologi, kebersihan menjadi prioritas utama di fasilitas perawatan lansia di Jepang. Standarisasi kebersihan dan kerapian diterapkan di semua fasilitas layanan kesehatan.
"Kebersihan dan kerapian saya pikir kita perlu mencontoh dan meniru budaya di sini," ungkap Ahmad, menekankan pentingnya kebersihan dalam menciptakan lingkungan yang nyaman dan sehat bagi pasien.
Kesempatan Karier yang Setara
Pengalaman Ahmad menunjukkan bahwa kesempatan karier di Jepang terbuka lebar bagi semua perawat, tanpa memandang kewarganegaraan. Selama memiliki kemampuan dan dedikasi, perawat asing memiliki peluang yang sama untuk naik jabatan.
"Memang untuk karier sendiri kami tidak dibatasi. Selagi kami mampu kami dikasih kesempatan seluas-luasnya," ujar Ahmad, yang kini aktif sebagai pembicara seminar mewakili perusahaannya.
Kisah Ahmad Naeni Nahwul Umam adalah bukti nyata bahwa dengan kerja keras, adaptasi, dan profesionalisme, perawat Indonesia dapat meraih kesuksesan di kancah internasional.