Prabowo Subianto Guyon Soal Jenggot Gubernur Aceh Saat Panen Raya Nasional

Prabowo Sapa Mualem dengan Candaan Jenggot di Tengah Panen Raya Nasional

Presiden terpilih, Prabowo Subianto, mencuri perhatian dalam acara Panen Raya Nasional yang digelar di Majalengka, Jawa Barat, Senin (7/4/2025). Kehadirannya tidak hanya untuk merayakan hasil panen para petani dari 14 provinsi, tetapi juga untuk menyapa para gubernur dari berbagai daerah, baik yang hadir secara langsung maupun virtual. Salah satu momen menarik adalah ketika Prabowo menyapa Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem.

Dengan nada bercanda khasnya, Prabowo melontarkan komentar mengenai penampilan Mualem. "Terima kasih Gubernur, terima kasih Mualem, jenggot anda tambah lebat saya lihat itu, ya kan?" ujar Prabowo sambil tertawa, seperti yang terekam dalam video yang diunggah oleh Sekretariat Presiden. Sapaan ini disambut gelak tawa para hadirin, menciptakan suasana yang cair dan akrab.

Selain menyapa Mualem, Prabowo juga menyinggung tentang janjinya untuk mengunjungi seluruh provinsi di Indonesia, termasuk Aceh. Ia menyadari bahwa dirinya masih memiliki "hutang" kunjungan yang belum terlunasi. "Nanti saya masih hutang, saya harus ke Aceh, saya harus ke semua provinsi. Ini hutang saya," katanya.

Prabowo kemudian meminta maaf karena belum dapat memenuhi janji tersebut. Ia mengakui bahwa mengelola negara sebesar Indonesia bukanlah tugas yang mudah. "Saya minta maaf saya belum sampai, karena ternyata ngurus republik ini, republik yang besar, republik keempat terbesar di dunia yakan, ternyata rumit," imbuhnya.

Rekonsiliasi Masa Lalu: Pertemuan Prabowo dan Mualem

Di balik sapaan akrab dan candaan tentang jenggot, tersimpan kisah rekonsiliasi yang mendalam antara Prabowo Subianto dan Muzakir Manaf. Keduanya pernah berada di pihak yang berlawanan dalam konflik di Aceh. Prabowo, sebagai seorang perwira TNI, dan Mualem, sebagai Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Pada tahun 2019, saat masih berstatus sebagai calon presiden, Prabowo menceritakan bagaimana ia akhirnya bertemu dengan Mualem pada tahun 2013. Awalnya, Prabowo menolak permintaan pertemuan tersebut. Namun, setelah beberapa kali permohonan, ia akhirnya bersedia.

"Saudara-saudara, saya dulu TNI, TNI pernah perang dengan GAM. Saya tidak tahu berapa puluh tahun. Tapi suatu saat ada yang datang kepada saya, 'Pak Prabowo, ini ada tokoh GAM yang mau ketemu Pak Prabowo'. 'Siapa?'," kata Prabowo saat itu.

"'Panglima GAM, panglima angkatan bersenjata GAM'. 'Siapa?' 'Muzakir Manaf, Mualim'. Itu sekitar tahun 2013. Minta ketemu saya. Saya tanya, ada apa dia mau ketemu saya? Dia kan GAM. Saya nggak mau ketemu," lanjutnya.

Prabowo menggambarkan pertemuan itu sebagai momen yang penuh keheningan. Tidak ada kata-kata yang terucap, tetapi rangkulan hangat menjadi simbol perdamaian dan rekonsiliasi. "Dia lihat saya. Saya berdiri, dia lihat saya. Dia maju saya maju. Tidak ada satu kata pun yang diucapkan, tapi dia rangkul saya dan saya rangkul dia. Tidak ada satu kata diucapkan, dia rangkul saya, saya rangkul dia. Permusuhan 25 tahun hilang," jelas Prabowo.

Momen Panen Raya Nasional ini menjadi pengingat akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa, serta kemampuan untuk melupakan perbedaan dan membangun masa depan yang lebih baik bersama. Sapaan Prabowo kepada Mualem, meski sederhana, membawa pesan yang mendalam tentang rekonsiliasi dan persaudaraan.