Bank DKI Diguncang Masalah Sistem, Pramono Anung Tempuh Jalur Hukum dan Copot Direktur IT
Bank DKI Dilanda Krisis Sistem, Pramono Anung Bertindak Tegas
Gubernur Jakarta, Pramono Anung, mengambil langkah drastis terkait gangguan sistem yang melanda Bank DKI sejak akhir Maret 2025. Pramono Anung melaporkan dugaan sabotase yang melibatkan orang dalam ke Bareskrim Polri dan mencopot Direktur Teknologi dan Operasional Bank DKI, Amirul Wicaksono.
"Ini sudah keterlaluan. Tidak mungkin tidak melibatkan orang dalam," tegas Pramono Anung dalam rapat terbatas dengan jajaran Direksi Bank DKI, yang videonya diunggah melalui akun Instagram pribadinya. Langkah hukum ini diambil sebagai respons atas keluhan nasabah yang memuncak akibat gangguan layanan perbankan yang berkepanjangan. Dia juga menginstruksikan agar kasus ini diinvestigasi secara profesional tanpa intervensi dari pihak manapun.
Pemecatan Direktur IT Sebagai Bentuk Pertanggungjawaban
Keputusan memberhentikan Direktur Teknologi dan Operasional merupakan bentuk pertanggungjawaban atas buruknya layanan digital Bank DKI. Pramono Anung menyampaikan bahwa pemecatan ini harus dilakukan segera. Ia ingin membangun kembali kepercayaan publik yang telah tergerus akibat insiden ini. Pramono Anung juga menegaskan bahwa gangguan sistem ini adalah yang terakhir dan tidak boleh terulang kembali.
Harapan Baru: IPO Bank DKI dalam Waktu Dekat
Di tengah krisis ini, Pramono Anung menyimpan harapan besar untuk Bank DKI. Ia bahkan menargetkan agar bank milik daerah ini bisa melantai di bursa saham (IPO) dalam waktu dekat. "Kalau bisa, Bank DKI ini IPO. Tidak mungkin diselesaikan satu setengah tahun. Maksimal enam bulan," ujarnya, menunjukkan optimisme untuk perubahan positif di tubuh Bank DKI.
Keluhan Nasabah Memuncak
Gelombang keluhan nasabah Bank DKI mulai membanjiri media sosial sejak 29 Maret 2025. Mereka melaporkan ketidakmampuan melakukan transaksi melalui aplikasi JakOne Mobile, termasuk transfer antar bank, pembayaran QRIS, dan tarik tunai di ATM Bersama.
Berikut beberapa keluhan yang muncul:
- Gagal Transaksi QRIS: Akun @unknown* mengeluhkan gagal bertransaksi menggunakan QRIS pada 30 Maret 2025. Transaksi tidak tercatat, namun saldo terpotong.
- Tak Bisa Transaksi Selama Mudik: Akun @erza*22 mencurahkan kekesalannya karena tidak bisa melakukan transaksi apapun sejak mudik Lebaran pada 29 Maret 2025. "Hey @bank_dki sampe kapan maintenance sistemmu? Dari mudik tanggal 29 sampe sekarang gak bisa transaksi antar bank, gak bisa bayar debit, gak bisa bayar QRIS, gak bisa tarik tunai ATM Bersama," tulisnya.
Jaminan Keamanan Dana Nasabah dan Investigasi Mendalam
Pramono Anung meyakinkan masyarakat bahwa dana nasabah tetap aman. Namun, ia menekankan bahwa gangguan sistem yang berlarut-larut tidak dapat ditolerir dan penanganannya harus menyentuh akar masalah, terutama di bidang IT. "Memang, kami sedang mendalami terutama hal yang berkaitan dengan IT. Hari ini maka kami rapatkan. Tentunya, kalau nanti Direksi dan juga jajaran Bank DKI sudah memberikan peta laporan secara lengkap permasalahan yang ada, saya dan Pak Wagub segera akan mengambil keputusan," kata Pramono Anung.
Dengan tindakan tegas dan harapan baru, Pramono Anung berupaya memulihkan kepercayaan publik dan membawa Bank DKI menuju perubahan yang lebih baik. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menyelesaikan krisis sistem dan membuka jalan bagi Bank DKI untuk mencapai potensi penuhnya di masa depan.