Lonjakan Harga Bumbu Dapur Picu Inflasi Ramadhan di Kalimantan Tengah

Inflasi Ramadhan di Kalimantan Tengah Dipicu Kenaikan Harga Bumbu Dapur

Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat terjadinya inflasi sebesar 1,71 persen selama bulan Ramadhan 1446 H (1-30 Maret 2025). Kenaikan harga sejumlah komoditas bumbu dapur menjadi penyumbang utama inflasi di provinsi tersebut. Kondisi ini berbanding terbalik dengan bulan Februari 2025, di mana seluruh kabupaten/kota di Kalteng justru mengalami deflasi.

Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa inflasi terjadi di empat kota sampel yang mewakili seluruh kabupaten/kota di Kalteng. Kota Sampit mencatat inflasi bulanan tertinggi, yakni 1,77 persen, disusul Palangka Raya (1,69 persen), Sukamara (2,07 persen), dan Kapuas (1,59 persen).

Penyebab Inflasi Ramadhan

Inflasi tidak hanya terjadi secara bulanan, tetapi juga secara tahunan. Sukamara mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 2,27 persen, diikuti Kapuas (1,93 persen), Palangka Raya (0,96 persen), dan Sampit (0,93 persen). Kenaikan harga komoditas bumbu dapur, seperti cabai rawit, bawang merah, dan mie instan, menjadi faktor utama pendorong inflasi selama Ramadhan.

Berikut rincian andil komoditas terhadap inflasi:

  • Cabai rawit: 0,15 persen
  • Bawang merah: 0,08 persen
  • Mie kering instan: 0,03 persen
  • Tarif Listrik : 1.30 persen
  • Emas Perhiasan : 0,04 persen

Selain bumbu dapur, tarif listrik juga memberikan andil signifikan terhadap inflasi, yakni sebesar 1,30 persen. Sementara itu, emas perhiasan menyumbang inflasi sebesar 0,04 persen.

Faktor Pendorong Kenaikan Harga

BPS Kalteng mencatat peningkatan permintaan terhadap berbagai komoditas bahan makanan selama bulan Ramadhan, terutama bahan baku bumbu-bumbuan. Hal ini dipicu oleh meningkatnya aktivitas perdagangan makanan untuk berbuka puasa. Kenaikan harga bawang merah juga disebabkan oleh berkurangnya pasokan dari wilayah sentra produksi di Pulau Jawa akibat belum memasuki masa panen dan faktor cuaca.

Beberapa komoditas juga mengalami deflasi, yaitu:

  • Daging ayam: -0,16 persen
  • Bayam: -0,03 persen
  • Ikan nila dan ikan peda: -0,02 persen
  • Kangkung: -0,01 persen